PINRANG — Ini bukan sekadar lomba. Ini panggung pembuktian.
Di tengah persaingan 36 provinsi se-Indonesia, satu nama tiba-tiba mencuat, menyalip diam-diam, lalu finis paling depan: UPT SDN 161 Pinrang.
Bukan kebetulan. Ini hasil “racikan” panjang.
Di bawah komando Kepala Sekolah, Andi Harisuddin, sekolah ini tampil seperti tim elite—rapi, terukur, dan tahu kapan harus menyerang. Hasilnya? Bukan cuma menang. Tapi menguasai.
Lima gelar diborong. Dua di antaranya kelas “mahkota”: Icon New Model 2026 dan Icon Etnik Model 2026. Gelar yang biasanya jadi rebutan sekolah-sekolah besar dari kota-kota mapan.
Tapi kali ini, Pinrang yang bicara.
Di balik kemenangan itu, ada dua nama yang jadi motor: Gavariel Naratama Siregar dan Muh Jibril Athala Hamka. Dua siswa ini bukan hanya tampil, tapi “mengguncang panggung”. Mereka bukan sekadar peserta—mereka jadi pusat perhatian.
Bahkan, suara favorit tertinggi ikut disapu. Artinya jelas: bukan cuma juri yang terpikat, publik juga ikut jatuh hati.
Inilah yang membuat SDN 161 Pinrang tak sekadar juara—tapi juara umum nasional 2026.
Hadiahnya pun bukan kaleng-kaleng. Tiket pulang-pergi ke Singapura, piala, piagam, hingga uang tunai. Tapi yang paling mahal bukan itu.
Momentum.
“Ini sejarah baru bagi kami,” kata Andi Harisuddin, singkat, tapi dalam. Ia tahu, ini bukan garis akhir. Ini justru pintu masuk.
Dukungan Pemkab Pinrang, Dinas Pendidikan, guru, hingga orang tua jadi bahan bakar yang tak terlihat—tapi terasa di hasil.
Kemenangan ini seperti pesan keras: sekolah daerah tak lagi jadi pelengkap. Mereka sudah naik kelas.
Dan sekarang, arah kompasnya jelas: internasional.
Singapura sudah menunggu. Pinrang? Tinggal memastikan satu hal—momentum ini tidak berhenti jadi euforia sesaat.
Karena di dunia kompetisi, yang paling berbahaya bukan yang menang sekali.
Tapi yang tahu cara menang lagi. (*)
Penulis: Hamka Wellu / Pinrang
