Surat itu datang tanpa suara. Bertanggal 7 Januari 2026, berkop Garuda Emas, ditandatangani Presiden Republik Indonesia.

Oleh: Edy Basri
Isi kertas itu singkat, resminya kaku, tapi maknanya dalam: negara sedang berterima kasih kepada Wajo—kepada sawah-sawahnya, kepada petaninya, kepada kerja sunyi yang akhirnya terdengar sampai Istana.
Di Wajo, angka tujuh bukan sekadar bilangan.
Ia hidup dalam ingatan.
Dalam cerita.
Dalam kebiasaan orang-orang yang terbiasa membaca tanda, bukan hanya kalender.
Orang tua di Wajo sering bilang: kalau sesuatu datang pada angka tujuh, jangan buru-buru menolak maknanya. Bisa jadi itu isyarat. Bisa jadi itu jawaban yang lama ditunggu.
Dan pada 7 Januari 2026, isyarat itu datang.
Bukan lewat mimpi.
Bukan lewat suara gaib.
Tapi lewat sepucuk surat berkop Garuda Emas.
Surat resmi.
Ditandatangani Presiden Republik Indonesia.
Atas nama negara.
Atas nama rakyat.
Isinya singkat. Formal. Nyaris dingin.
Tapi maknanya hangat: terima kasih.
Terima kasih kepada Wajo.
Karena berasnya.
Karena sawahnya.
Karena ketekunannya.
Wajo tidak pernah berisik soal prestasi.
Sawah memang tidak bisa berteriak. Ia hanya tumbuh. Diam-diam. Pelan. Tapi pasti.
Pagi hari di Wajo selalu sama sejak puluhan tahun lalu. Kabut tipis menggantung di atas petak-petak sawah. Air mengalir pelan di saluran irigasi. Lumpur masih basah. Dan petani datang tanpa aba-aba.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kamera.
Yang ada hanya kerja.
Di situlah ketahanan pangan lahir sesungguhnya. Bukan di istilah. Bukan di presentasi PowerPoint. Tapi di rutinitas yang tidak pernah libur.
Tahun 2025, ketika banyak daerah sibuk mengeluh cuaca, Wajo memilih bekerja. Ketika orang lain menunggu bantuan, Wajo menata sistem.
Lahan ditanami.
Musim dipercepat.
Air dijaga.
Petani didampingi.
Hasilnya baru terasa belakangan. Data datang dari pusat. Angka-angka disusun. Grafik naik pelan, lalu menanjak.
Wajo masuk peringkat kedelapan nasional peningkatan produksi beras.
Tidak nomor satu.
Tapi cukup untuk membuat negara berhenti sejenak.
Negara biasanya melihat angka.
Dan angka Wajo cukup meyakinkan.
Produksi naik.
Stok aman.
Distribusi stabil.
Dalam bahasa kebijakan, ini disebut food availability dan food stability. Dalam bahasa petani, ini disebut: “panen bagus.”
Presiden Prabowo Subianto, dalam agenda nasional swasembada pangan, menyebut satu per satu daerah yang berkontribusi nyata. Nama Wajo ada di sana.
Lalu datanglah surat itu.
Bukan amplop biasa.
Di kepalanya tertera Garuda Emas.
Simbol negara.
Simbol kedaulatan.
Simbol bahwa apa yang dilakukan di sawah-sawah Wajo bukan urusan lokal lagi.
Tanggal di sudut surat itu: 7 Januari 2026.
Angka tujuh. Lagi.
Bupati Wajo, Andi Rosman, bukan tipe pemimpin yang gemar berpidato panjang. Ia lebih suka mendengar. Lebih sering turun ke lapangan tanpa seremoni.
Orang-orang di sekitarnya tahu: ia tidak menyebut pertanian sebagai “sektor”. Ia menyebutnya “hidup”.
Di masa kepemimpinannya, pertanian tidak diperlakukan sebagai proyek tahunan. Tapi sebagai sistem yang harus tahan banting. Tahan iklim. Tahan harga. Tahan perubahan.
Istilah akademiknya: agricultural resilience.
Bersambung…
Istilah sederhananya: sawah jangan mati.
Ia percaya satu hal: petani tidak butuh janji besar. Mereka butuh kepastian kecil yang terus dijaga. Air mengalir. Benih tepat waktu. Harga masuk akal.
Maka kebijakan di Wajo bergerak ke sana. Pelan. Konsisten. Tidak meloncat-loncat.
Dan ketika hasilnya datang, ia tidak mengklaimnya sebagai milik pribadi.
“Ini kerja kolektif,” katanya singkat.
Kalimat yang terdengar klise.
Tapi di Wajo, itu nyata.
Surat berkop Garuda Emas itu akhirnya sampai ke meja kerja pemerintah daerah.
Bukan untuk dipajang sebagai hiasan.
Tapi sebagai penanda: negara mengakui.
Penghargaan itu diterima Wakil Bupati, dr. Baso Rahmanuddin. Tapi semua orang tahu, surat itu ditujukan kepada satu sistem. Kepada satu cara bekerja.
Ia bukan piala.
Ia bukan medali.
Ia adalah legitimasi moral.
Bahwa kerja sunyi juga bisa terdengar sampai Jakarta.
Di Wajo, orang mulai menghitung ulang.
7 Januari.
Peringkat 8 nasional—angka yang lahir dari 2025 (2+0+2+5 = 9, satu langkah setelah 8).
Musim tanam yang sering dimulai di bulan ketujuh.
Orang Wajo tidak berlebihan menafsirkan. Tapi mereka percaya: kerja yang konsisten akan menemukan momennya sendiri.
Angka tujuh hanya penanda.
Bukan tujuan.
Tujuannya tetap sama: beras cukup, petani sejahtera.
Bersambung…
Hari ini, Wajo tidak hanya disebut lumbung pangan Sulawesi Selatan. Ia mulai disebut dalam peta buffer stock nasional.
Artinya sederhana: jika ada guncangan, Wajo bisa menopang.
Di dunia yang makin tidak pasti, itu bukan hal kecil.
Ketahanan pangan bukan lagi jargon. Ia soal bertahan hidup. Dan Wajo sudah memilih jalannya: bekerja, bukan berisik.
Surat Garuda Emas itu mungkin akan disimpan rapi. Tapi maknanya akan terus hidup di sawah-sawah yang ditanami ulang.
Karena setelah penghargaan, sawah tidak berhenti.
Ia menuntut musim berikutnya.
Dan di Wajo, orang sudah tahu: kerja belum selesai. (*)

Tinggalkan Balasan