Makassar, katasulsel.com — Pertemuan itu ternyata tidak berhenti di forum saudagar.

Tidak selesai di meja makan Hotel Claro.

Dan tidak sekadar jadi ajang foto-foto para pengusaha Bugis-Makassar.

Hampir dua bulan setelah gelaran Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXVI pada 25–26 Maret 2026 di Claro Makassar, hasilnya mulai terlihat.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Kali ini arahnya menuju Sidenreng Rappang atau Sidrap.

Dan nama besar yang mulai bergerak adalah Aksa Mahmud.

Founder Bosowa Corporation itu disebut tengah menyiapkan sejumlah investasi untuk Sidrap.

Bukan proyek kecil.

Ada hotel.

Ada mal.

Bahkan ada dukungan sektor pertanian melalui penyediaan bibit untuk petani.

Bagi Sidrap, ini bukan kabar biasa.

Karena selama ini kabupaten yang dikenal sebagai “lumbung beras” Sulawesi Selatan itu kuat di sektor pertanian, tetapi masih relatif tertinggal pada sektor penunjang modern seperti pusat bisnis dan perhotelan besar.

Sidrap Mulai Dilirik Orang-Orang Besar

Rencana itu mencuat usai pertemuan antara Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, dengan Aksa Mahmud beberapa waktu lalu.

Syaharuddin membenarkan adanya agenda investasi tersebut.

Menurutnya, komunikasi itu merupakan tindak lanjut dari PSBM XXVI yang digelar di Makassar akhir Maret lalu.

Menariknya, pembicaraan mereka tidak hanya soal bisnis perkotaan.

Tetapi juga menyentuh jantung ekonomi Sidrap: pertanian.

Aksa Mahmud disebut siap membantu penguatan sektor pertanian melalui salah satu perusahaan miliknya yang bergerak di bidang agribisnis.

Bantuan itu berupa penyediaan bibit untuk petani.

Ini penting.

Karena di Sidrap, persoalan pertanian tidak lagi hanya soal air dan pupuk.

Tetapi juga kualitas bibit yang menentukan produktivitas panen.

Sidrap Sedang Bergerak dari Kota Singgah Menjadi Kota Tujuan

Selama ini, Sidrap dikenal sebagai daerah transit.

Orang lewat.

Selanjutnya………….

Makan.

Isi BBM.

Lalu lanjut perjalanan.

Tetapi perlahan wajah daerah ini mulai berubah.

Masuknya rencana pembangunan hotel dan mal menunjukkan Sidrap mulai dipandang sebagai kawasan dengan potensi ekonomi baru.

Apalagi dalam beberapa tahun terakhir geliat ekonomi daerah ini memang mulai terasa.

Sektor pertanian tumbuh.

Perdagangan bergerak.

Aktivitas masyarakat meningkat.

Dan pemerintah daerah terlihat agresif membangun citra investasi.

Jika proyek hotel dan mal itu benar-benar terealisasi, dampaknya bukan cuma pada gedung baru.

Tetapi juga membuka lapangan kerja, memicu pertumbuhan UMKM, hingga mengubah pola ekonomi perkotaan di Sidrap.

Karena biasanya, ketika hotel besar masuk, kawasan di sekitarnya ikut hidup.

Kafe bermunculan.

Pusat kuliner tumbuh.

Lahan mulai dilirik investor.

Dan harga tanah pelan-pelan ikut bergerak naik.

Aksa Mahmud Seperti Sedang “Pulang Kampung” lewat Investasi

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, nama Aksa Mahmud bukan nama asing.

Ia adalah salah satu saudagar besar Bugis yang membangun kerajaan bisnis dari timur Indonesia.

Mulai semen, otomotif, pendidikan, properti, hingga perhotelan.

Karena itu, ketika ia mulai melirik Sidrap, publik langsung menangkap sinyal besar.

Apalagi momentum ini lahir setelah PSBM — forum yang memang sering melahirkan jejaring ekonomi baru antarsaudagar Bugis-Makassar.

Dan Sidrap tampaknya berhasil mencuri perhatian.

Bupati Syaharuddin sendiri belakangan memang aktif menawarkan potensi daerahnya kepada investor.

Ia terlihat ingin mengubah Sidrap bukan hanya kuat sebagai daerah pertanian, tetapi juga tumbuh sebagai pusat ekonomi baru di wilayah Ajatappareng.

Pertanian Tetap Jadi Nafas Utama

Meski bicara hotel dan mal terdengar modern, satu hal tetap tidak berubah:

Sidrap tetap bertumpu pada sawah.

Selanjutnya………….

Karena itu, bantuan bibit dari perusahaan milik Aksa Mahmud justru dianggap punya dampak strategis.

Apalagi pemerintah daerah saat ini sedang mendorong produktivitas pertanian lebih agresif, termasuk target IP300 dan peningkatan hasil panen.

Jika dukungan sektor pertanian berjalan beriringan dengan investasi perkotaan, Sidrap berpeluang mengalami lompatan ekonomi yang berbeda.

Bukan hanya kota penghasil gabah.

Tetapi juga kota yang mulai membangun ekosistem bisnisnya sendiri.

Dan mungkin di situlah menariknya cerita ini.

Selanjutnya………….

Bahwa hasil dari forum saudagar dua bulan lalu ternyata tidak berhenti sebagai pidato dan tepuk tangan.

Tetapi mulai diterjemahkan menjadi investasi nyata.

Dari ruang pertemuan di Makassar, kini arahnya menuju sawah dan pusat kota Sidrap. (edybasri)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 12 Mei 2026 21:14 WIB