Sidrap, Katasulsel.com — Di Sidenreng Rappang atau Sidrap, sawah bukan sekadar hamparan hijau.
Sawah adalah urat nadi.
Karena itu, ketika hasil panen turun sedikit saja, yang ikut gelisah bukan cuma petani — tetapi satu daerah.
Dan Sabtu pagi, 9 Mei 2026, di tengah hamparan sawah Kelurahan Majjeling Wattang, Kecamatan Maritengngae, ada pemandangan yang cukup berbeda.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Syaharuddin Alrif tidak datang sekadar memberi sambutan formal.
Ia turun langsung ke sawah.
Naik Rice Transplanter.
Bicara soal gulma.
Bicara soal pupuk.
Dan bicara target yang terdengar sangat ambisius:
10 ton gabah per hektare.
Bagi banyak petani, angka itu bukan target biasa.
Karena untuk mencapai level tersebut, bertani tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara lama.
Syahar Mau Petani Sidrap “Naik Kelas”
Politisi Partai NasDem itu terlihat ingin mengubah cara berpikir petani Sidrap.
Menurutnya, era bertani tradisional perlahan harus ditinggalkan.
Petani, kata dia, harus mulai akrab dengan mekanisasi dan teknologi pertanian.
Bukan lagi sekadar tanam-panen.
Tetapi sudah masuk pola modern: efisiensi, pengendalian gulma, penggunaan mesin, dan perlindungan tanaman yang terukur.
“Hari ini kita praktikkan sekaligus luncurkan Pirazo. Kalau ada teknologi baru seperti ini, petani harus dengar dan praktikkan,” ujar Syahar di hadapan ratusan petani dan penyuluh.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi sebenarnya menggambarkan arah baru pertanian Sidrap.
Bahwa sawah sekarang bukan hanya soal cangkul dan lumpur.
Tetapi juga soal teknologi.
Gulma Kini Dianggap “Pencuri Pupuk”
Di acara peluncuran herbisida Pirazo produksi PT Excel Meg Indo itu, Syahar bahkan bicara cukup detail soal gulma.
Menurutnya, banyak petani sering fokus pada pupuk dan bibit, tetapi lupa bahwa gulma adalah pesaing utama tanaman padi.
“Kalau gulma dibiarkan, nutrisi pupuk justru diserap rumput liar,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan.
Karena itu, penggunaan herbisida pratumbuh dan purnatumbuh disebut menjadi bagian penting dalam strategi meningkatkan hasil panen.
Istilahnya mungkin terdengar teknis.
Tetapi di lapangan, persoalannya sederhana:
Petani ingin hasil panen naik tanpa biaya membengkak.
Dan di situlah teknologi mulai masuk sebagai “senjata baru”.
Rice Transplanter Jadi Simbol Pertanian Modern
Yang menarik, Syahar tidak hanya bicara dari atas panggung.
Ia langsung turun mengoperasikan Rice Transplanter — mesin tanam padi modern yang mulai didorong penggunaannya di Sidrap.
Pemandangan itu cukup simbolis.
Karena selama ini, banyak petani masih menganggap mesin tanam sebagai sesuatu yang mahal atau rumit.
Padahal menurut pemerintah daerah, mekanisasi justru bisa memangkas biaya dan mempercepat proses tanam.
Syahar optimistis kombinasi mesin tanam dan pengendalian gulma modern bisa membuat produktivitas sawah Sidrap melonjak.
“Dengan kombinasi teknologi mesin dan perlindungan tanaman yang pas, saya optimistis produktivitas lahan di Sidrap bisa mencapai 10 ton ke atas per hektare,” katanya.
Kalau target itu tercapai, Sidrap bukan hanya tetap menjadi lumbung beras Sulsel.
Tetapi bisa menjadi salah satu daerah dengan produktivitas tertinggi di Indonesia Timur.
Harga Gabah Sedang “Bersahabat”
Di tengah semangat modernisasi pertanian itu, satu kabar lain ikut membuat petani tersenyum:
harga gabah sedang bagus.
Saat ini berada di kisaran Rp7.300 per kilogram.
Bagi petani, harga adalah segalanya.
Karena hasil panen melimpah tidak banyak berarti jika harga jatuh.
Syahar menyebut kondisi harga saat ini cukup berpihak kepada petani.
Dan itu membuat momentum peningkatan produksi terasa semakin menarik.
Karena petani tidak hanya didorong menanam lebih banyak.
Tetapi juga sedang menikmati harga jual yang relatif menguntungkan.
Sidrap Sedang Menyiapkan “Generasi Baru” Petani
Perwakilan PT Excel Meg Indo, Ode Khalik, mengatakan Pirazo hadir untuk menjawab persoalan gulma endemik yang selama ini sulit dikendalikan petani Sulsel.
Menurutnya, perusahaan tidak hanya menjual produk, tetapi juga akan mendampingi petani.
Pendampingan itu penting.
Karena problem pertanian modern sering bukan pada alatnya.
Tetapi pada cara penggunaan dan konsistensi di lapangan.
Kegiatan itu juga dihadiri sejumlah pejabat daerah, mulai dari Kepala Dinas Pertanian Ibrahim, Kadisdagrin Fajrin Salman, Camat Maritengngae Firman, hingga Ketua KTNA Sidrap Abdul Samad.
Tetapi di balik seluruh seremoni itu, ada pesan yang terasa cukup kuat:
Sidrap tampaknya sedang mencoba melahirkan “petani generasi baru”.
Petani yang bukan hanya kuat bekerja di sawah.
Tetapi juga paham teknologi, efisiensi, dan strategi produksi.
Karena di era sekarang, bertani tidak lagi cukup hanya rajin.
Petani juga harus modern. (*)
Update terbaru: 12 Mei 2026 21:38 WIB
