Makassar, katasulsel.com — Di antara ratusan jemaah yang bersiap menuju Tanah Suci, satu nama mencuat bukan karena usia tua atau pengalaman panjang, tetapi justru karena sebaliknya.
Masih 19 tahun.
Namanya Husnul Khulqy.
Mahasiswa semester 4 Program Studi Kesehatan Masyarakat di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, resmi menjadi jemaah haji termuda dalam kloter pertama Embarkasi Makassar asal Kabupaten Soppeng.
Di tengah dominasi jemaah lansia, Husnul tampak kontras. Muda, segar, dan penuh antusias.
Ia terlihat bersiap di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang, Selasa (21/4/2026), bersama ratusan jemaah lainnya.
Namun di balik status “termuda”, jalan Husnul menuju Tanah Suci bukan instan.
Ia berangkat bukan karena kebetulan, tetapi karena skenario keluarga: penggabungan mahram untuk mendampingi sang ibu.
“Rasanya terharu dan bahagia. Saya berangkat bersama mama,” ujarnya.
Kisah ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum koper disiapkan.
Sang ibu mendaftar haji pada 2010.
Husnul menyusul pada 2021.
Artinya, ada penantian panjang yang akhirnya bertemu pada satu titik keberangkatan.
Lebih dari lima tahun proses tunggu yang kini berbuah perjalanan bersama.
Yang menarik, di usia yang masih sangat muda, Husnul tidak hanya memikirkan ibadah ritual.
Ia sudah menyiapkan daftar doa yang cukup personal: keluarga, teman, dan masa depan studinya sendiri.
“Banyak doa. Untuk keluarga, teman, dan saya pribadi,” katanya.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara ia memaknai perjalanan ini.
Bukan sekadar pergi, tetapi juga pulang dengan harapan baru.
Fenomena jemaah muda seperti Husnul memang tidak banyak, terutama dalam rombongan haji yang mayoritas diisi kelompok usia lanjut.
Karena itu, kehadirannya menjadi semacam “anomali yang positif”.
Di satu sisi, ia menunjukkan bahwa sistem pendaftaran haji bisa melibatkan generasi muda lewat jalur keluarga.
Di sisi lain, ia juga menjadi simbol bahwa ibadah ini tidak mengenal usia terlalu dini untuk dipahami secara spiritual.
Dalam kloter ini, total terdapat 387 jemaah asal Soppeng dan satu jemaah dari Kota Makassar.
Namun sorotan publik justru mengarah pada satu kursi: kursi yang diduduki anak 19 tahun yang berangkat bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk mendampingi ibunya menuju rukun Islam kelima.
Di tengah antrean panjang, biaya besar, dan waktu tunggu bertahun-tahun, kisah Husnul menjadi pengingat bahwa di balik sistem yang kompleks, selalu ada cerita manusia yang sederhana: anak yang ingin berjalan bersama ibunya menuju tempat paling sakral. (*)
Cluster Soppeng: Lihat berita Soppeng
