Finis keempat di Prancis juga membuat posisi Veda di klasemen makin menjanjikan. Dia sekarang mulai menempel nama-nama besar seperti Máximo Quiles dan Adrián Fernández. Musim masih panjang, tapi tren positif ini membuat peluang podium bahkan kemenangan mulai terbuka.
Yang bikin publik makin antusias, Veda sekarang terlihat makin percaya diri saat duel lawan rider-rider Eropa. Dulu pembalap Asia sering hanya bertahan di tengah rombongan. Sekarang, Veda sudah berani ikut mengacak-acak grup depan.
Kalau performanya terus stabil seperti ini, bukan tidak mungkin Indonesia akhirnya punya pembalap yang benar-benar bisa bicara banyak di level Grand Prix dunia. Le Mans menjadi bukti bahwa Veda Ega Pratama bukan sekadar numpang lewat di Moto3 2026. Dia mulai hadir sebagai ancaman nyata di lintasan. (*)
