Edy Basri adalah seorang jurnalis senior, akademisi, sekaligus pengelola media daring yang telah berkecimpung di dunia jurnalistik selama bertahun-tahun. Saat ini, ia menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Katasulsel.com, salah satu media online yang berfokus pada pemberitaan daerah, pemerintahan, hukum, pendidikan, dan berbagai isu strategis di Sulawesi Selatan.
Karier jurnalistiknya ditempa melalui pendidikan dan pelatihan serta pengalaman bekerja di sejumlah media terkemuka di Indonesia, di antaranya Harian PAREPOS dan Harian FAJAR, media terkemuka di Sulawesi Selatan. Pengalaman tersebut membentuk kapasitasnya dalam bidang peliputan, penulisan berita, investigasi, hingga manajemen redaksi. Konsistensinya dalam menjaga profesionalisme dan etika jurnalistik membawanya meraih pengakuan kompetensi sebagai Wartawan Utama setelah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan Dewan Pers pada tahun 2018.
Selain aktif di dunia pers, Edy Basri juga menaruh perhatian besar pada bidang pendidikan. Ia terlibat dalam kegiatan akademik sebagai pengajar pada bidang Ilmu Hukum, khususnya pada mata kuliah yang berkaitan dengan hukum pidana dan perdata serta kajian peraturan perundang-undangan. Baginya, dunia jurnalistik dan dunia akademik memiliki keterkaitan yang erat dalam membangun masyarakat yang kritis, berintegritas, dan berorientasi pada penegakan hukum.
Melalui berbagai aktivitasnya sebagai jurnalis, penulis, dan pengajar, Edy Basri terus berupaya menghadirkan informasi yang akurat, mendidik, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan literasi, demokrasi, dan kesadaran hukum di tengah masyarakat.
Edy Basri meyakini bahwa pers yang independen dan pendidikan yang berkualitas merupakan dua pilar penting dalam menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Finis keempat di Prancis juga membuat posisi Veda di klasemen makin menjanjikan. Dia sekarang mulai menempel nama-nama besar seperti Máximo Quiles dan Adrián Fernández. Musim masih panjang, tapi tren positif ini membuat peluang podium bahkan kemenangan mulai terbuka.
Yang bikin publik makin antusias, Veda sekarang terlihat makin percaya diri saat duel lawan rider-rider Eropa. Dulu pembalap Asia sering hanya bertahan di tengah rombongan. Sekarang, Veda sudah berani ikut mengacak-acak grup depan.
Kalau performanya terus stabil seperti ini, bukan tidak mungkin Indonesia akhirnya punya pembalap yang benar-benar bisa bicara banyak di level Grand Prix dunia. Le Mans menjadi bukti bahwa Veda Ega Pratama bukan sekadar numpang lewat di Moto3 2026. Dia mulai hadir sebagai ancaman nyata di lintasan. (*)