Enrekang, katasulsel.com — Di era media sosial, satu potongan video bisa lebih cepat dari klarifikasi. Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Enrekang.
Sebuah video singkat beredar luas. Seorang pria berjas hitam, kemeja putih, dasi merah, dan pin DPRD di dada, terlihat merangkul seorang wanita di sebuah kafe. Tidak ada konteks panjang. Hanya potongan momen.
Namun di ruang digital, potongan sering dianggap cerita utuh.
Dari penelusuran, pria tersebut diduga anggota DPRD Enrekang berinisial ST. Tapi kata kuncinya tetap sama: “diduga”. Belum ada konfirmasi final soal waktu, tempat, maupun situasi lengkap kejadian.
Ketua DPRD Enrekang, Ikrar Eran Batu, memilih posisi hati-hati. Ia mengakui sudah melihat informasi tersebut, tapi belum bisa memberi sikap resmi.
Alasannya sederhana: belum ada klarifikasi langsung dari yang bersangkutan.
“Belum saya konfirmasi, jadi belum bisa saya komentar lebih jauh,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan satu pola yang sering muncul dalam kasus serupa: institusi bergerak lambat bukan karena tidak tahu, tapi karena tidak ingin salah langkah di awal.
Di sisi lain, video yang beredar hanya berdurasi singkat. Beberapa detik. Tapi justru di situlah masalahnya.
Di ruang publik digital, durasi tidak selalu menentukan dampak. Beberapa detik bisa memicu interpretasi panjang.
Ikrar juga menekankan pentingnya konteks. Bisa saja itu keluarga, bisa saja ada situasi yang tidak terlihat dalam potongan video. Tapi semua itu masih spekulatif.
Menariknya, ia menyebut sang anggota sedang berada di kebun, “tanam bawang”, dan sulit dihubungi. Detail kecil ini justru menambah dimensi lain: jarak antara politik dan realitas keseharian yang masih sangat dekat.
Kasus ini pada akhirnya bukan hanya soal benar atau salah. Tapi soal bagaimana informasi bekerja hari ini: cepat, terpotong, dan sering mendahului klarifikasi.
DPRD Enrekang memilih satu langkah klasik: menunggu penjelasan resmi sebelum menyimpulkan.
Di era viral, sikap menunggu kadang terasa lambat. Tapi di sisi lain, terburu-buru menyimpulkan bisa lebih berisiko.
Dan seperti banyak kasus serupa, titik akhirnya akan ditentukan bukan oleh video singkat—melainkan oleh konteks yang menyertainya.(*)
