JAKARTA, Katasulsel.com – Di saat banyak daerah menunggu program turun dari pusat, Kabupaten Wajo memilih jalur berbeda: datang langsung, bicara terbuka, dan membawa misi besar ke meja Menteri Pertanian.
Bupati Wajo H. Andi Rosman, Senin (20/04/2026), bertemu Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Jakarta. Tapi ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ada nuansa “jemput peluang” yang terasa kuat—bahkan seperti langkah cepat untuk mengamankan posisi Wajo dalam peta besar swasembada pangan nasional.
Dengan status sebagai salah satu lumbung padi di Sulawesi Selatan, Wajo tidak ingin hanya dikenal—tetapi ingin diperkuat.
Di hadapan Menteri, Andi Rosman langsung menyampaikan kebutuhan pertanian daerahnya secara terbuka dan menyeluruh. Mulai dari alat mesin pertanian (alsintan), irigasi, embung, jalan usaha tani, hingga cetak sawah dan dukungan peternakan.
Tidak setengah-setengah, semua disampaikan dalam satu momentum.
“Kami sampaikan seluruh kebutuhan pertanian Wajo hari ini. Harapannya ada solusi agar masyarakat bisa memaksimalkan potensi yang ada,” ujarnya.
Langkah ini memberi gambaran bahwa Wajo sedang memainkan strategi aktif: bukan sekadar menerima kebijakan, tapi ikut “mengatur ritme” pembangunan sektor pertanian.
Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mendorong modernisasi pertanian, optimalisasi lahan, hingga penguatan pasca-panen—tiga hal yang menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas nasional.
Pertemuan ini pun terasa seperti titik temu dua kepentingan: target besar nasional dan kebutuhan konkret daerah.
Yang menarik, di balik bahasa formal kerja sama, terselip dinamika yang jarang terlihat—persaingan antar daerah dalam menarik perhatian pusat. Dalam konteks ini, Wajo tampak tidak ingin berada di barisan belakang.
“Kami ingin memperkuat kolaborasi untuk ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Wajo,” kata Andi Rosman.
Namun makna di baliknya lebih dari itu: Wajo sedang memposisikan diri sebagai pemain utama, bukan sekadar pelengkap dalam agenda besar pangan Indonesia.
Kini bola ada di dua sisi—pusat dengan programnya, dan daerah dengan kesiapan lahannya.
Jika keduanya bertemu di titik yang tepat, bukan tidak mungkin Wajo akan semakin kokoh sebagai salah satu poros pangan di Sulawesi Selatan.
Tapi jika tidak, pertemuan ini hanya akan menjadi catatan—di antara banyak daerah lain yang juga mengetuk pintu yang sama.(*)
