Sidrap, Katasulsel.com – Hari itu tidak ada sirene yang meraung.

Tidak ada pula kejar-kejaran pelaku kriminal.

Yang terdengar justru teriakan anak-anak, suara bola yang ditendang, dan gelak tawa yang memantul di antara perbukitan Pitu Riase.

Di Dusun III Wala, Kelurahan Batu, Kecamatan Pitu Riase, Kamis (4/6/2026), patroli kepolisian berubah menjadi pemandangan yang tidak biasa.

Kapolsek Pitu Riase, Ipda Sakaria, datang bersama anggotanya bukan hanya membawa pesan keamanan. Mereka juga membawa sesuatu yang lebih sederhana: kedekatan.

Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Jalanan menanjak, sebagian harus ditempuh dengan berjalan kaki melintasi medan pegunungan yang cukup menantang.

Namun setibanya di dusun yang berada jauh dari hiruk-pikuk perkotaan itu, suasana langsung berubah hangat.

Anak-anak yang awalnya hanya memandang dari kejauhan perlahan mendekat. Tak lama kemudian, lapangan kecil di kampung itu berubah menjadi arena pertandingan dadakan.

Seragam polisi yang biasanya identik dengan ketegasan mendadak akrab dengan debu lapangan dan tawa bocah-bocah.

Ipda Sakaria ikut berbaur.

Tidak ada jarak.

Tidak ada protokoler.

Hanya polisi dan anak-anak kampung yang sama-sama mengejar bola.

Beberapa warga bahkan tampak tersenyum menyaksikan pemandangan yang jarang mereka lihat.

Di banyak tempat, anak-anak mengenal polisi dari cerita penertiban atau penangkapan. Namun di Dusun Wala sore itu, polisi dikenang karena umpan pendek, tendangan pelan, dan canda yang mengundang tawa.

“Kami ingin anak-anak merasa dekat dengan polisi. Jangan takut. Polisi adalah sahabat mereka,” kata Ipda Sakaria.

Lewat permainan sederhana itu, pesan-pesan penting ikut disisipkan.

Tentang kejujuran.

Tentang menjauhi pergaulan negatif.

Tentang pentingnya menjaga diri dan menghormati orang tua.

Usai bermain, kegiatan berlanjut dengan menyambangi rumah-rumah warga.

Kapolsek bersama personelnya memberikan imbauan kamtibmas sekaligus mengingatkan warga agar lebih waspada menghadapi musim hujan.

Di kawasan pegunungan seperti Pitu Riase, ancaman longsor menjadi perhatian tersendiri.

Para orang tua diminta mengawasi anak-anak mereka agar tidak bermain di lokasi yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Namun yang paling membekas bagi warga bukanlah imbauan itu.

Melainkan cara penyampaiannya.

Bukan dari atas podium.

Bukan lewat pengeras suara.

Tetapi dari lapangan kecil tempat polisi dan anak-anak kampung bermain bola bersama.

β€œBiasanya kami lihat polisi kalau ada masalah atau kejadian tertentu. Ini pertama kali polisi datang lalu bermain bersama anak-anak. Rasanya lebih dekat,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Di Dusun Wala sore itu, tugas menjaga keamanan tidak dilakukan dengan wajah tegang.

Ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.

Sebuah bola.

Sebuah lapangan.

Dan sekelompok anak yang pulang ke rumah sambil bercerita bahwa hari itu mereka baru saja bermain sepak bola bersama polisi. (*)