Jakarta, katasulsel.com –– Di balik tawaran pekerjaan bergaji belasan hingga puluhan juta rupiah per bulan, tersimpan praktik kejahatan siber yang kini menjadi perhatian aparat penegak hukum. Polisi membongkar jaringan penipuan daring internasional atau scammer dengan modus “pig butchering” yang beroperasi di kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Kasus ini semakin menyita perhatian publik setelah mantan artis, Fabiola Elizabeth, ditetapkan sebagai salah satu tersangka dalam jaringan tersebut.
Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Himawan Susanto Saragih, mengungkapkan para pekerja dalam jaringan tersebut menerima gaji yang tergolong tinggi.
Menurutnya, pegawai yang bertugas sebagai marketing, leader hingga model dalam operasi penipuan itu memperoleh bayaran antara Rp10 juta hingga Rp20 juta setiap bulan.
Namun di balik angka yang menggiurkan itu, para pekerja diduga menjadi bagian dari mesin penipuan digital yang menyasar korban dari luar negeri, khususnya warga negara Amerika Serikat.
Polisi mengungkap, dari puluhan orang yang telah diamankan, terdapat warga negara asing yang berasal dari Myanmar dan Nepal. Sementara sejumlah warga negara Indonesia diketahui direkrut melalui tawaran pekerjaan yang beredar di Facebook.
Skemanya terbilang rapi dan modern. Pelaku terlebih dahulu membangun komunikasi dengan calon korban melalui media sosial, aplikasi kencan, hingga berbagai platform digital lainnya.
Setelah hubungan emosional terjalin dan korban mulai percaya, pelaku perlahan menggiring target untuk berinvestasi melalui situs perdagangan aset kripto yang telah direkayasa. Dana yang disetor korban kemudian mengalir ke jaringan pelaku tanpa bisa ditarik kembali.
Dalam dunia kejahatan siber, modus ini dikenal dengan istilah “pig butchering“. Istilah tersebut merujuk pada strategi pelaku yang “menggemukkan” korban terlebih dahulu dengan membangun kedekatan dan kepercayaan, sebelum akhirnya menguras dana korban dalam jumlah besar.
Polisi menilai metode ini sangat berbahaya karena tidak mengandalkan ancaman atau kekerasan, melainkan memainkan sisi psikologis dan emosi korban.
Korban sering kali tidak menyadari dirinya sedang ditipu. Mereka merasa sedang menjalin hubungan pertemanan, bisnis, bahkan asmara dengan seseorang yang dipercaya, padahal seluruh interaksi telah dirancang sebagai bagian dari skenario penipuan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tawaran pekerjaan bergaji besar di media sosial tidak selalu berujung manis. Di era digital, jebakan tidak lagi datang melalui lorong gelap atau telepon misterius, tetapi bisa muncul dari notifikasi, pesan pertemanan, hingga tawaran kerja yang tampak meyakinkan.
Kini, aparat terus mendalami jaringan tersebut untuk mengungkap aktor-aktor lain yang diduga terlibat dalam operasi penipuan lintas negara itu. Sementara publik kembali diingatkan agar lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan digital yang semakin canggih dan sulit dikenali. (*)
