Jakarta, katasulsel.com — Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah selatan Filipina meninggalkan dampak besar. Hingga Senin (8/6/2026), sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan 129 lainnya mengalami luka-luka. Guncangan kuat tersebut juga memicu kepanikan serta gelombang tsunami kecil di sejumlah wilayah pesisir.

Gempa yang berpusat di perairan selatan Mindanao itu terjadi pada Senin pagi dan langsung dirasakan di berbagai wilayah Filipina. Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, sementara fasilitas umum terdampak cukup signifikan. Otoritas setempat masih terus melakukan pendataan di lapangan, dengan kemungkinan jumlah korban yang masih bisa bertambah.

Di tengah situasi darurat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah negara di kawasan Pasifik, termasuk Indonesia.

Status waspada kemudian diberlakukan di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, Papua, hingga Kalimantan Timur. Langkah ini diambil setelah adanya potensi penjalaran gelombang tsunami akibat aktivitas seismik kuat di Filipina.

Selama masa pemantauan, BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di beberapa titik pengamatan, di antaranya Melonguane, Tahuna, Ulu Siau, Loloda, Talengan, Paleleh, hingga Tanjung Sidupa. Namun, seluruh kenaikan tersebut berada pada level rendah dan tidak menimbulkan dampak signifikan bagi masyarakat pesisir.

Setelah dilakukan analisis lanjutan dan memastikan kondisi laut kembali stabil, BMKG akhirnya secara resmi mencabut peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk tetap waspada dan hanya mengikuti informasi resmi dari lembaga pemerintah, mengingat situasi pascagempa masih dinamis.

Di Filipina sendiri, proses evakuasi dan penanganan korban masih terus berlangsung. Tim penyelamat dikerahkan ke berbagai wilayah terdampak untuk mencari korban, menyalurkan bantuan, serta membantu warga yang kehilangan tempat tinggal.

Hingga saat ini, ratusan gempa susulan masih tercatat oleh otoritas setempat, membuat sebagian warga memilih bertahan di lokasi pengungsian demi keamanan.

Bencana ini kembali menjadi pengingat bahwa kawasan Cincin Api Pasifik masih sangat aktif secara seismik, dan potensi gempa besar dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan panjang. (*)