Jakarta, katasulsel.com — Hanya satu kata yang berulang dalam rangkaian unggahan pada 4–5 Juni 2026: “Ayah.”

Di tengah memanasnya polemik pascaperceraian antara Ruben Onsu dan Sarwendah, perhatian warganet justru tertuju kepada sosok yang selama ini lebih sering memilih diam, yakni Betrand Peto.

Melalui pesan pribadi yang kemudian diunggah Ruben ke media sosial, Betrand menunjukkan dukungan penuh kepada pria yang telah membesarkannya sejak kecil. Dalam pesan itu, ia meminta Ruben menjaga kesehatan dan tidak terlalu memikirkan komentar negatif yang beredar di media sosial. Ia juga menegaskan bahwa dirinya akan selalu berada di samping sang ayah.

Kalimat yang paling menyentuh perhatian publik muncul di bagian akhir pesan tersebut.

“Aku bangga punya ayah. Love you ayah.”

Ungkapan itu segera menyebar luas di berbagai platform. Banyak warganet menilai hubungan keduanya menjadi bukti bahwa ikatan keluarga tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah.

Namun cerita tidak berhenti di situ.

Pada periode yang sama, Betrand juga mengunggah curahan hati yang lebih dalam. Ia mengaku sedih melihat berbagai komentar yang menyerang Ruben di media sosial. Dalam unggahan tersebut, Onyo bahkan mengisyaratkan bahwa dirinya pernah menyaksikan momen-momen yang menurutnya menyakitkan bagi sang ayah ketika keluarga mereka masih tinggal serumah. Pengakuan itu langsung memicu perdebatan panjang di kalangan netizen.

Bagi sebagian orang, unggahan itu dianggap sebagai bentuk pembelaan seorang anak kepada ayahnya. Bagi yang lain, unggahan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa luka lama dalam keluarga itu belum sepenuhnya sembuh.

Yang menarik, di tengah derasnya komentar dan spekulasi, fokus warganet justru bukan lagi pada konflik yang sedang berlangsung. Banyak yang membahas bagaimana Betrand berkali-kali menyebut kata “ayah” dalam setiap pesannya.

Di dunia media sosial yang sering dipenuhi sindiran dan pertengkaran, satu pesan sederhana justru menjadi sorotan terbesar.

“Ayah, semangat ya.”

Kalimat itu mungkin pendek. Tetapi dalam dua hari terakhir, kalimat tersebut menjadi salah satu yang paling banyak diperbincangkan publik. (*)