Jerez, Katasulsel.com – Nama dua pembalap muda Asia kini tidak lagi sekadar “rookie pelengkap grid” di Moto3 2026. Mereka mulai masuk percakapan serius di paddock: Veda Ega Pratama dari Indonesia dan Hakim Danish dari Malaysia. Dua nama, dua gaya, satu jalur panjang menuju MotoGP.

Di tengah dominasi tradisional pembalap Eropa, keduanya perlahan menggeser narasi. Bukan dengan pernyataan besar, tapi lewat lap time, duel tikungan, dan hasil akhir yang mulai konsisten diperhatikan.

🇮🇩 Veda: Tenang, Tidak Banyak Gaya, tapi Mengisi Papan Atas

Veda Ega Pratama bersama Honda Team Asia menjalani musim yang lebih “diam tapi bekerja”.

Tidak banyak drama, tidak banyak crash yang mencolok, tapi justru itu yang membuatnya menonjol di kelas yang sering kacau.

Podium di GP Brasil (P3) menjadi salah satu titik paling terang musim ini. Ditambah finis P4 di Prancis dan hampir selalu masuk zona poin, Veda kini bertahan di lima besar klasemen sementara Moto3 2026.

Di paddock, gaya balapnya sering disebut “dewasa lebih cepat dari usianya”. Ia tidak selalu tercepat di satu lap, tapi tahu kapan harus menahan diri dan kapan harus menyerang.

🇲🇾 Hakim Danish: Ledakan Kecepatan yang Belum Selesai Disusun

Di sisi lain garasi, Hakim Danish tampil seperti kebalikan dari Veda.

Ia cepat. Bahkan sangat cepat di beberapa sesi. Tapi Moto3 bukan hanya soal cepat, melainkan soal bertahan sampai garis finis.

Hakim mencatat podium di GP Italia (P3) dan beberapa kali masuk 10 besar. Namun inkonsistensi masih menjadi catatan besar: satu seri bisa di depan, seri berikutnya menghilang dari perebutan poin.

Posisinya saat ini berkisar di 10–11 klasemen sementara.

Di mata banyak pengamat, Hakim adalah “potongan cepat dari masa depan”, tapi masih perlu dirangkai agar menjadi paket lengkap.

Dua Jalur, Satu Tujuan

Jika disandingkan, perbedaan keduanya cukup jelas:

Veda unggul di konsistensi dan manajemen balapan
Hakim unggul di kecepatan mentah dan agresivitas

Veda lebih sering terlihat di klasemen atas
Hakim lebih sering muncul di highlight

Satu stabil, satu eksplosif

Dan justru di situlah rivalitas ini mulai terasa menarik.

Lebih dari Sekadar Indonesia vs Malaysia

Rivalitas ini pelan-pelan tidak lagi sekadar soal negara. Lebih jauh, ini tentang dua pendekatan menuju MotoGP: apakah jalurnya lewat kestabilan, atau lewat kecepatan yang harus “ditata ulang”.

Musim masih panjang. Dan Moto3 selalu punya satu kebiasaan: membalik semua prediksi dalam satu tikungan terakhir.

Untuk sekarang, Veda sedikit lebih unggul di angka. Tapi Hakim belum selesai bicara. (din)