Enrekang, katasulsel.com β Kasus gigitan anjing liar kembali terjadi di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Seorang anak sekolah dasar berinisial MR (12) dilaporkan menjadi korban gigitan anjing liar bersama tiga warga dewasa lainnya. Pemerintah Kabupaten Enrekang kini bergerak cepat melakukan penanganan medis sekaligus pemeriksaan laboratorium untuk memastikan status rabies pada hewan penular tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Enrekang, Sabir, membenarkan adanya insiden tersebut. Peristiwa itu terjadi di Desa Tongko, Kecamatan Baroko, pada Sabtu (25/1/2026).
βIya, benar. Ada satu anak SD dan tiga orang dewasa yang menjadi korban gigitan anjing liar,β ujar Sabir, Selasa (27/1/2026).
Sabir menjelaskan, korban anak mengalami luka cukup serius di beberapa bagian tubuh, yakni di kepala sebelah kanan, pipi kanan, serta bagian belakang tubuh. Sementara korban dewasa juga mengalami luka gigitan dengan tingkat keparahan berbeda.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Menurutnya, kejadian bermula saat korban anak bersama teman-temannya bermain dan mengejar anjing liar yang berkeliaran di sekitar permukiman. Namun, anjing tersebut justru berbalik menyerang dan menggigit korban secara berturut-turut.
βAwalnya anak-anak mengejar anjing itu saat bermain. Tetapi kemudian anjing tersebut menyerang dan menggigit,β jelas Sabir.
Dinas Kesehatan mencatat, total terdapat empat korban dalam insiden ini, seluruhnya digigit oleh anjing yang sama. Hewan tersebut telah diamankan dan dibunuh oleh warga setempat untuk mencegah serangan lanjutan.
Sebagai langkah penanganan, seluruh korban telah mendapatkan tindakan medis sesuai standar operasional prosedur (SOP) rabies, mulai dari pencucian luka, pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dosis awal, hingga Serum Anti Rabies (SAR) sesuai indikasi medis.
βSemua korban sudah ditangani sesuai SOP rabies dan saat ini masih dalam pemantauan petugas kesehatan,β tegas Sabir.
Untuk memastikan apakah anjing tersebut terinfeksi rabies, kepala anjing telah diambil oleh Dinas Peternakan guna dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil uji laboratorium masih menunggu dari pihak terkait.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan, Dinas Kesehatan Enrekang mengimbau masyarakat agar tidak berinteraksi, apalagi mengejar anjing liar yang berkeliaran di lingkungan sekitar, demi mencegah risiko gigitan dan penularan penyakit.
βKami mengingatkan warga agar lebih waspada dan menghindari kontak dengan hewan liar. Pencegahan adalah langkah terbaik agar kejadian serupa tidak terulang,β pungkasnya.(ZF)

Tinggalkan Balasan