Enrekang, Katasulsel.com, 19 Mei 2026 β Lahan kosong di belakang ruang kelas SMA Negeri 2 Enrekang kini berubah menjadi kebun produktif. Sekolah memanfaatkannya sebagai media pembelajaran berbasis praktik dengan menanam berbagai jenis sayuran menggunakan polibag dan sistem hidroponik.
Kepala sekolah, Sukayono, mengatakan pemanfaatan lahan tersebut tidak sekadar untuk penghijauan, tetapi juga sebagai sarana edukasi kontekstual bagi siswa.
βIni bagian dari pembelajaran berbasis proyek. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung mulai dari menanam, merawat, hingga memanen. Ada nilai kemandirian dan tanggung jawab yang dibangun,β ujar Sukayono.
Pada metode polibag, siswa menanam mentimun, pare, kacang panjang, dan terong. Mentimun dipilih karena relatif cepat panen dan mudah dirawat dengan penyiraman teratur serta paparan sinar matahari cukup. Pare dikenal adaptif di media terbatas dan memiliki nilai manfaat kesehatan. Kacang panjang tumbuh optimal dengan bantuan penyangga, sedangkan terong memerlukan perhatian pada pengendalian hama.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Sejumlah tanaman tersebut kini mulai memasuki masa panen. Hasilnya dimanfaatkan sebagai bahan praktik lanjutan sekaligus penguatan pembelajaran kewirausahaan sederhana di lingkungan sekolah.
Selain polibag, sekolah juga mengembangkan sistem hidroponik dengan membudidayakan selada dan sawi. Metode ini dinilai lebih efisien dalam penggunaan air serta cocok diterapkan di lahan terbatas seperti area belakang kelas. Pertumbuhan tanaman relatif lebih cepat karena nutrisi langsung terserap oleh akar.
βSistem hidroponik sudah beberapa kali menghasilkan panen. Siswa bisa membandingkan teknik, proses, dan hasilnya secara langsung. Itu pengalaman belajar yang tidak mereka dapatkan hanya dari buku,β kata Sukayono.
Ia berharap program tersebut dapat menumbuhkan kesadaran lingkungan sekaligus membekali siswa dengan keterampilan dasar pertanian berkelanjutan.
Pemanfaatan lahan belakang kelas ini menjadi contoh praktik pembelajaran yang mengintegrasikan aspek lingkungan, keterampilan hidup, dan pendidikan karakter dalam satu kegiatan yang aplikatif dan berkelanjutan.
