Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 526 Lihat semua

Katasulsel.com — Permintaan Presiden Donald Trump agar sekutu Barat mengirim kapal perang ke Selat Hormuz tak disambut hangat.

Sebaliknya, enam negara—Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, dan Kanada—kompak menolak.

Alasannya satu: ini bukan perang mereka.

“Ini bukan perang NATO,” menjadi garis tegas yang disampaikan Berlin. Negara-negara Eropa tak ingin konflik antara Amerika Serikat dan Iran melebar menjadi krisis militer yang lebih besar.

Di balik penolakan itu, ada kekhawatiran yang sama: eskalasi.

Prancis memilih jalur diplomasi. Italia fokus mengamankan energi dari jalur alternatif. Spanyol dan Belanda menilai operasi militer terlalu berisiko. Kanada pun mengambil sikap serupa—menahan diri, menghindari keterlibatan langsung.

Semua seperti sepakat: jangan tambah api di tengah bara.

Ketegangan ini bermula dari memanasnya konflik di kawasan Teluk, pasca serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026. Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz—jalur sempit, tapi krusial.

Sekitar 20 persen minyak dunia melintas di sana.

Begitu jalur itu terganggu, efeknya langsung terasa. Harga minyak melonjak tajam, disebut-sebut naik hingga 40–50 persen. Pasar global goyah. Negara-negara pengimpor energi mulai waspada.

Dalam situasi itu, Washington mendorong pengawalan militer untuk tanker minyak. Tapi sekutu justru memilih langkah berbeda.

Bukan kapal perang, melainkan meja perundingan.

Perbedaan sikap ini menandai retakan strategi di tubuh Barat. Amerika Serikat mendorong pendekatan militer. Eropa memilih menahan diri.

Di satu sisi, ada dorongan menjaga jalur energi tetap aman. Di sisi lain, ada ketakutan bahwa satu langkah militer bisa memicu konflik yang lebih luas.

Untuk saat ini, sekutu memilih jarak.

Dan di tengah panasnya Selat Hormuz, dunia menunggu: apakah ini akan mereda lewat diplomasi—atau justru meledak jadi krisis yang lebih besar.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.