Hungaria, katasulsel.com — Ada perubahan yang tidak terlalu terlihat di layar hasil, tetapi cukup terasa di data pit box: Veda Ega Pratama mulai konsisten di titik pengereman dan keluar tikungan—dua area yang selama ini jadi penentu di Moto3 Eropa.

Di Sirkuit Brno, Ceko, Veda sempat berada di posisi 26 pada sesi latihan bebas. Secara kasat mata, itu terlihat sebagai awal yang sulit. Namun dari sisi telemetri, justru mulai muncul tanda-tanda positif di sektor akhir lintasan, terutama pada stabilitas saat motor mulai dibuka gas penuh.

Perubahan besar terjadi setelah tim melakukan penyesuaian kecil namun krusial pada set-up motor. Bukan perubahan ekstrem, melainkan penyempurnaan pada keseimbangan chassis dan traksi belakang. Setelah itu, ritme Veda berubah cepat.

Ia mulai memangkas waktu hingga mencatat 2 menit 06,435 detik dan naik ke posisi 15—lonjakan yang menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada kecepatan dasar, tetapi pada konsistensi lintasan.

Ketika berpindah ke Hungaria, di sirkuit Hungaroring, pola itu makin jelas. Veda terlihat lebih stabil di sektor transisi—bagian yang biasanya “menghukum” pembalap yang belum menemukan feeling motor.

Di sesi kualifikasi, ia berhasil menembus Q2. Dalam konteks Moto3, ini bukan sekadar lolos sesi, tetapi indikator bahwa pembalap sudah berada dalam window performa yang tepat—baik dari sisi ban, set-up, maupun mental race mode.

Yang menarik, progres ini tidak datang dari satu sesi spektakuler, melainkan akumulasi kecil: pengereman sedikit lebih dalam, bukaan gas sedikit lebih cepat, dan pilihan racing line yang lebih presisi.

Di paddock, kondisi seperti ini sering disebut sebagai “ketemu kunci”—momen ketika pembalap akhirnya menyatu dengan karakter motor, meski belum sepenuhnya sempurna.

Sebelumnya, Veda juga sempat mencatat start di posisi 9 besar di Hungaria, memperkuat indikasi bahwa ketika semua elemen bekerja bersamaan, ia mampu bersaing di kelompok depan.

Kini pertanyaan utama di garasi bukan lagi soal apakah Veda cepat, tetapi apakah “kunci” yang mulai ditemukan ini bisa bertahan ketika balapan sebenarnya dimulai dan tekanan berubah menjadi duel roda-ke-roda di lap-lap terakhir. (din)