Katasulsel.com — Perburuan gelar juara dunia Moto3 musim ini masih jauh dari kata selesai. Siapa pun yang mulai mencoret nama Veda Ega Pratama dari persaingan, tampaknya terlalu terburu-buru.
Ya, pembalap muda Indonesia itu memang belum memimpin klasemen. Namun, posisinya masih sangat menjanjikan. Dengan koleksi 90 poin, Veda bertengger di peringkat keenam klasemen sementara. Jaraknya dengan para pembalap di atasnya masih bisa dikejar, apalagi musim masih menyisakan 11 seri.
Di atas Veda ada Almansa (109 poin), Morelli (115 poin), dan Carpe (126 poin). Selisih itu memang tidak kecil, tetapi juga belum aman. Dalam Moto3, satu balapan saja bisa mengubah peta persaingan secara drastis.
Yang membuat peluang Veda tetap terbuka adalah fakta bahwa ia kehilangan banyak poin bukan karena kalah kecepatan, melainkan akibat insiden. Ia gagal finis (DNF) di Amerika Serikat ketika sedang bertarung di kelompok depan, lalu kembali terjatuh di Assen. Andai dua balapan itu berakhir dengan raihan poin besar, posisi klasemen bisa saja berbeda.
Meski begitu, Veda berhasil bangkit. Tambahan poin di seri terakhir menjadi sinyal bahwa ia belum kehilangan ritme. Mentalnya tetap terjaga.
Di sinilah kelebihan Veda mulai terlihat.
Sebagai rookie, ia tidak tampil gegabah. Ia justru menunjukkan kedewasaan yang jarang dimiliki pembalap pendatang baru. Saat latihan bebas, Veda lebih sering fokus mencari ritme balapnya sendiri daripada mengejar catatan waktu dengan memanfaatkan slipstream pembalap lain.
Strategi itu beberapa kali membuahkan hasil. Ia mampu langsung lolos ke Q2 dan bahkan sempat menjadi yang tercepat dalam sesi latihan bebas. Itu bukan keberuntungan, melainkan hasil dari kerja yang terukur.
Yang lebih menarik lagi, paruh kedua musim akan memasuki kawasan Asia.
Inilah wilayah yang bisa menjadi titik balik Veda.
Sirkuit Sepang di Malaysia, Motegi di Jepang, hingga Mandalika di Indonesia bukan lintasan asing baginya. Berbeda dengan beberapa trek Eropa yang baru pertama kali dijajal menggunakan motor Moto3, lintasan Asia sudah sangat dikenalnya sejak masih berkarier di ajang junior.
Keuntungan mengenal karakter sirkuit bukan hal sepele. Pembalap bisa lebih cepat menemukan setelan motor, memahami titik pengereman, dan menjaga konsistensi sepanjang balapan.
Karena itu, peluang Veda meraih kemenangan pertama musim ini justru semakin besar ketika seri Asia dimulai.
Dua podium yang sudah diraih menjadi bukti bahwa kecepatannya bukan kebetulan. Kini, target berikutnya adalah kemenangan.
Persaingan memang masih berat. Namun, Moto3 dikenal sebagai kelas yang penuh kejutan. Selisih poin bisa berubah hanya dalam satu akhir pekan balapan.
Yang dibutuhkan Veda sekarang adalah satu hal: konsisten finis dan menghindari kesalahan yang berujung DNF.
Jika itu berhasil dilakukan, bukan tidak mungkin pembalap muda asal Indonesia tersebut akan terus merangsek ke papan atas klasemen, bahkan ikut bertarung memperebutkan gelar juara dunia hingga seri penutup.
Musim masih panjang. Tinggal 11 balapan lagi.
Dan untuk Veda Ega Pratama, cerita besar itu tampaknya baru saja dimulai.
