Oleh: Tipue Sultan
Sidrap sedang diuji. Bukan karena beras. Bukan pula karena pupuk.
Yang membuat banyak dapur mendadak “mati gaya” justru tabung hijau tiga kilogram. Gas melon.
Barang kecil. Tetapi dampaknya besar.
Di warung kopi, di pasar, di teras rumah, obrolannya sama. “Sudah dapat gas?” Bukan lagi, “Sudah makan?”
Beginilah kalau barang subsidi mulai menghilang.
Yang lebih menyakitkan, kalaupun ada, harganya membuat orang menghela napas panjang. Ada yang menjual Rp35 ribu. Ada pula yang tembus Rp40 ribu per tabung. Padahal gas itu disubsidi negara untuk masyarakat kecil, bukan untuk diperdagangkan sesuka hati.
Sidrap adalah daerah lumbung pangan. Sawah terbentang di mana-mana. Padi tumbuh subur. Produksi beras terus dibanggakan. Tetapi ironisnya, masyarakat justru kesulitan mendapatkan gas untuk menanak beras yang mereka hasilkan sendiri.
Ini ironi.
Petani bisa menghasilkan gabah berton-ton. Pedagang bisa menjual hasil panen. Tetapi ketika pulang ke rumah, mereka harus berkeliling kampung hanya untuk mencari satu tabung gas.
Ada yang mendatangi tiga pangkalan. Kosong.
Pindah ke pangkalan lain. Kosong lagi.
Akhirnya menyerah. Membeli di pengecer dengan harga yang membuat dompet ikut menjerit.
Pertanyaannya sederhana.
Ke mana sebenarnya gas itu pergi?
Kalau pasokan normal, mengapa langka?
Kalau distribusi lancar, mengapa warga harus berburu?
Kalau memang stok kurang, mengapa tidak sejak awal dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat?
Jangan sampai yang terjadi justru permainan lama. Barang ditahan. Pasar dibuat panik. Harga naik. Lalu ada yang tersenyum menghitung keuntungan.
Kalau itu yang terjadi, yang dirugikan bukan hanya masyarakat. Negara juga rugi. Subsidi yang nilainya triliunan rupiah menjadi salah sasaran.
Pemerintah Kabupaten Sidrap tidak boleh hanya menjadi penonton. Pertamina, agen, hingga pangkalan harus diawasi. Distribusi harus dibuka seterang-terangnya. Berapa jatah Sidrap setiap hari? Berapa yang sudah disalurkan? Ke pangkalan mana saja? Semua harus transparan.
Sebab masyarakat tidak butuh pernyataan bahwa “stok aman” jika kenyataannya tabung hijau tetap sulit ditemukan.
Masyarakat hanya ingin satu hal: datang ke pangkalan, membawa tabung kosong, pulang membawa tabung penuh dengan harga yang wajar.
Sesederhana itu.
Kalau gas melon saja sudah terasa seperti barang langka di Sidrap, maka ada yang tidak beres dalam mata rantai distribusinya. Dan kalau kondisi ini terus dibiarkan, yang padam bukan hanya api kompor.
Kepercayaan masyarakat juga bisa ikut padam. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
