Sidrap, katasulsel.com – Di saat warga Sidrap berburu gas melon dari satu pangkalan ke pangkalan lain, puluhan tabung elpiji subsidi 3 kilogram justru terpantau masuk dari luar daerah dan dijual dengan harga yang membuat masyarakat geleng kepala.

Harga yang semestinya berkisar Rp20 ribuan di pangkalan, di lapangan bisa melonjak hingga Rp40 ribu per tabung.

Temuan itu terjadi pada Selasa malam (14/7/2026). Sebuah mobil pikap putih yang membawa puluhan tabung elpiji 3 Kg terlihat berhenti di depan Masjid Taqdir, kawasan Taman Usman Isa, Pangkajene, Sidrap. Tabung-tabung yang sebelumnya tertutup terpal kemudian diturunkan kepada seorang penjual.

Yang menarik, tabung-tabung tersebut bukan berasal dari Sidrap.

Pada segel plastik berwarna hitam yang masih menempel di tabung tertulis PT Sumber Gas Jaya Abadi, agen elpiji yang beralamat di Dusun Ajakkang, Desa Ajakkang, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru.

Fakta itu memunculkan pertanyaan baru di tengah kelangkaan gas melon yang sudah berbulan-bulan dikeluhkan warga Sidrap.

Bagaimana tabung subsidi dari Barru bisa beredar bebas di Sidrap?

Saat dikonfirmasi, pemilik tabung mengaku gas tersebut diperoleh dari wilayah Barru dan Parepare sebelum dijual kembali di Sidrap.

Sementara itu, seorang warga bernama Caca mengaku membeli langsung dari mobil pengangkut tersebut.

“Saya beli Rp40 ribu,” ujarnya singkat.

Fenomena ini membuat masyarakat semakin bertanya-tanya. Ketika warga kesulitan mendapatkan elpiji subsidi, justru muncul distribusi lintas daerah yang berakhir di tingkat pengecer dengan harga dua kali lipat lebih mahal.

Tidak sedikit warga menduga ada mata rantai distribusi yang perlu diawasi lebih ketat.

Apalagi, elpiji 3 Kg merupakan barang bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Ketika harga di lapangan mencapai Rp40 ribu, tujuan subsidi pemerintah dinilai tidak lagi sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Kondisi tersebut memunculkan desakan agar aparat penegak hukum bersama instansi terkait melakukan penelusuran lebih jauh terhadap jalur distribusi gas melon yang masuk ke Sidrap.

Warga berharap pengawasan tidak hanya dilakukan di pangkalan, tetapi juga pada pergerakan tabung dari satu daerah ke daerah lain yang berpotensi memicu kelangkaan dan lonjakan harga.

Kepala Dinas Perdagangan Sidrap, Fajrin, mengatakan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan aparat keamanan terkait pengawasan distribusi elpiji subsidi.

“Kalau soal itu mungkin ranahnya aparat penegak hukum. Namun tentu kami akan terus berkoordinasi terkait pengawasan ketat soal pendistribusian gas melon ke masyarakat,” katanya.

Fajrin mengingatkan, sebelumnya aparat kepolisian juga pernah mengamankan pelaku yang diduga hendak membawa elpiji subsidi dari Sidrap ke luar daerah.

Kini pertanyaannya berbalik.

Jika dulu gas melon hendak keluar dari Sidrap, mengapa sekarang tabung dari luar daerah justru bisa masuk dan beredar dengan harga mencapai Rp40 ribu?

Pertanyaan itu masih menunggu jawaban dari hasil pengawasan dan penelusuran pihak berwenang. Sementara itu, warga Sidrap masih harus menghadapi kenyataan: gas subsidi makin sulit dicari, dan kalau pun ada, harganya sering kali tidak lagi terasa sebagai barang subsidi.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini