Sidrap, katasulsel.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin (Unhas) tidak datang ke Desa Tonrong Rijang, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), sekadar membawa spanduk dan seremoni.

Mereka datang dengan sembilan program kesehatan yang dirancang berdasarkan hasil observasi dan identifikasi persoalan kesehatan di tengah masyarakat.

Sembilan program tersebut dipaparkan dalam Seminar Program Kerja yang digelar di Desa Tonrong Rijang, Selasa (14/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan pengabdian yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Alih-alih menawarkan program yang bersifat umum, mahasiswa KKN-PK 69 memilih membaca persoalan kesehatan secara langsung di lapangan. Hasilnya, sembilan program disiapkan untuk menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga masyarakat umum.

Program pertama, PERIKSA (Pelayanan Skrining Kesehatan Masyarakat), berfokus pada deteksi dini faktor risiko penyakit. Melalui program ini, masyarakat didorong untuk mengenali kondisi kesehatan lebih awal sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Selanjutnya, GESIT (Gerakan Sehat Cegah Hipertensi) menyasar kelompok usia produktif dan lanjut usia. Program ini dirancang sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hipertensi sebagai salah satu faktor risiko penyakit tidak menular.

Mahasiswa juga menghadirkan SEHATI (Sehat Tanpa Diabetes Melitus melalui Penerapan Pola Hidup Sehat). Program tersebut memberikan edukasi dan pendampingan sederhana mengenai pentingnya pola makan, aktivitas fisik, serta pengendalian faktor risiko diabetes melitus.

Di bidang kesehatan gigi dan mulut, terdapat dua program sekaligus. SIGAP (Senyum Indah, Gigi Aman dengan Pelapisan Fluor) berfokus pada perlindungan kesehatan gigi anak melalui aplikasi fluor.

Sementara SIGEMAS (Sikat Gembira Menuju Anak Sehat) diarahkan untuk menanamkan kebiasaan menyikat gigi dengan cara yang benar sejak usia dini.

Tak hanya menyentuh persoalan penyakit, mahasiswa juga mendorong kesiapsiagaan masyarakat melalui PINTAR (Pelatihan Interaktif Nilai Tanggap Aksi dan Respon Darurat). Program ini memberikan edukasi dasar mengenai penanganan kondisi darurat yang berpotensi terjadi di lingkungan masyarakat.

Budaya hidup bersih dan sehat turut menjadi perhatian melalui program JAGOAN (Jaga Kebersihan, Aksi Optimal, dan Edukasi Kesehatan dengan PHBS).

Program tersebut mengampanyekan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah sederhana yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, mahasiswa juga menyentuh aspek literasi kesehatan digital melalui LENTERA (Literasi dan Edukasi Pemanfaatan Aplikasi Mobile JKN bagi Masyarakat).

Program ini membantu masyarakat memahami pemanfaatan layanan kesehatan digital melalui aplikasi Mobile JKN.

Sementara di sektor pendidikan dan kesehatan mental, mahasiswa memperkenalkan program “Aku Teman, Bukan Lawan”.

Kampanye edukatif tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan sekolah yang ramah, aman, serta bebas dari praktik perundungan atau bullying.

Koordinator Desa KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin, Faturrahman Abdurrasid Korosa, mengatakan seluruh program lahir dari proses observasi dan identifikasi kebutuhan masyarakat bersama pemerintah desa dan tenaga kesehatan.

“Kami ingin program yang dijalankan tidak hanya selesai saat KKN berakhir, tetapi mampu menjadi kebiasaan dan pengetahuan yang terus hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kepala UPT Puskesmas Baranti, Muhammad Tang, S.KM., M.Kes., menilai program-program tersebut cukup adaptif terhadap kondisi kesehatan masyarakat di wilayah Tonrong Rijang.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan mahasiswa menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak lagi sekadar kegiatan sosial, tetapi telah berkembang menjadi bentuk intervensi kesehatan berbasis data dan kebutuhan lapangan.

Dosen Pendamping KKN, Basir, S.KM., M.Sc., menambahkan bahwa pelaksanaan KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan akademik dalam menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.

“Ketika ilmu kesehatan bertemu dengan kebutuhan masyarakat, di situlah pengabdian menemukan maknanya,” katanya.

Melalui sembilan program tersebut, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin berharap kehadiran mereka tidak berhenti pada laporan kegiatan.

Lebih dari itu, mereka ingin meninggalkan pengetahuan, kesadaran, dan kebiasaan sehat yang terus tumbuh bersama masyarakat Desa Tonrong Rijang. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini