Brno, Katasulsel.com — Start dari posisi kedelapan di Moto3 Republik Ceko 2026 justru kembali membuka satu cerita yang sudah mulai dikenal di paddock: Veda Ega Pratama bukan tipe pembalap yang menunggu di depan, tapi yang muncul dari belakang lalu mengubah jalannya balapan.

Di atas kertas, P8 bukan posisi ideal untuk berburu podium. Tapi di Moto3, terutama di lintasan Sirkuit Brno, angka di grid sering kali tidak bertahan lama setelah balapan dimulai.

Veda kembali berada dalam situasi yang sudah beberapa kali ia lalui musim ini. Bukan memulai dari barisan terdepan, bahkan dalam beberapa balapan sebelumnya sempat tercecer di posisi belakang, namun tetap mampu menembus grup depan lewat rangkaian overtake agresif yang membuat pembalap-pembalap Eropa kewalahan menjaga posisi.

Justru pola itulah yang kini membuat namanya mulai diperhitungkan. Di saat banyak rival mengandalkan start sempurna, Veda justru sering “hidup” di tengah kekacauan race—saat slipstream, kesalahan kecil, dan duel rapat mulai membuka peluang.

Fenomena itu terlihat jelas di beberapa seri sebelumnya, ketika ia sempat berada di posisi yang jauh dari zona poin pada awal balapan, namun perlahan naik hingga mengganggu ritme pembalap-pembalap papan tengah Eropa. Gaya balap agresif di fase akhir membuatnya kerap muncul sebagai kejutan yang tidak diperhitungkan.

Kini, dari P8 di Brno, skenario serupa kembali terbuka.

Di sisi lain, persaingan di barisan depan tetap dipimpin oleh nama-nama cepat seperti David Almansa yang sudah membuktikan kecepatan sejak kualifikasi. Namun Moto3 bukan hanya soal siapa tercepat di satu lap, melainkan siapa yang paling cerdas membaca 20 lap penuh tekanan.

Jika Veda kembali menemukan ritme seperti di balapan-balapan sebelumnya—menjaga ban, memanfaatkan celah, dan menyerang di saat yang tepat—maka P8 bisa berubah menjadi cerita lain yang jauh lebih besar.

Dan di Moto3, cerita seperti itu bukan hal mustahil. Justru sering terjadi di saat paling tidak terduga.(*)