Oleh: Tipue Sultan

LIHAT foto di atas pelan-pelan.

Jangan buru-buru.

Ada empat lelaki di sana.

Semuanya mengenakan pakaian adat.

Darwis sang ayah.

Lalu ada Bota, dan dua adiknya Raihan serta Khalid.

Bota mengenakan pakaian pengantin pria.

Malam ini, Selasa, 18 Agustus 2026, ia sedang menjalani prosesi malam pacar.

Mereka terlihat kompak.

Berdiri bersama.

Seperti sebuah keluarga yang sedang menyambut kebahagiaan.

Tetapi ada satu hal yang membuat foto itu terasa begitu dalam.

Satu orang tidak ada.

Samsinar.

Ibu Bota.

Ibu Raihan.

Ibu Khalid.

Istri Darwis.

Perempuan yang sangat ingin menyaksikan malam ini.

Namun ia sudah pergi.

Kemarin malam.

Dan yang lebih menggetarkan lagi, malam pacar itu berlangsung di Arateng, Sidrap.

Di kediaman nenek.

Di rumah orang tua Samsinar.

Rumah tempat Samsinar dahulu tumbuh.

Rumah yang menyimpan masa kecilnya.

Rumah yang barangkali pernah menjadi tempat ia berlari ketika masih kecil.

Tempat ia pulang.

Tempat ia mengenal kasih sayang orang tua.

Dan malam ini, di rumah itu pula, anaknya sedang bersiap menuju pernikahan.

Tanpa dirinya.

Rumah itu pasti punya banyak cerita

Setiap rumah orang tua selalu menyimpan masa lalu.

Dindingnya mungkin pernah mendengar tangis anak kecil.

Pekarangannya mungkin pernah menjadi tempat bermain.

Pintu rumahnya mungkin pernah berkali-kali dibuka ketika seorang anak pulang.

Di rumah itulah Samsinar pernah menjadi anak.

Sebelum kemudian menjadi istri.

Menjadi ibu.

Menjadi perempuan yang membesarkan tiga putra.

Kini rumah itu kembali ramai.

Tetapi bukan untuk menyambut Samsinar pulang.

Melainkan untuk menyambut putranya, Bota, yang akan menikah.

Betapa anehnya perjalanan hidup.

Dulu Samsinar datang ke rumah itu sebagai anak.

Malam ini anaknya datang ke rumah itu sebagai calon pengantin.

Dan di antara dua peristiwa itu, ada seorang ibu yang sudah tidak ada.

Kemarin malam Samsinar pergi

Senin, 17 Agustus 2026.

Sesudah Magrib.

Samsinar berpulang.

Setelah berbulan-bulan berjuang melawan sakit yang dideritanya.

Carcinoma mammae.

Keluarga sudah berusaha.

Pengobatan medis ditempuh.

Rumah sakit didatangi.

Klinik didatangi.

Berbagai ikhtiar dilakukan.

Pengobatan tradisional pun dicoba.

Sebab kalau yang sakit adalah orang yang kita cintai, harapan sekecil apa pun tetap akan dikejar.

Mungkin Samsinar juga masih ingin bertahan.

Bukan semata karena takut pergi.

Tetapi mungkin karena ia masih ingin melihat satu hari yang sangat ia tunggu.

Hari ketika Bota menikah.

Tetapi takdir berkata lain.

Ia pergi sehari sebelum malam pacar putranya.

Siang tadi tanah menutupnya

Hari ini, Selasa, 18 Agustus.

Sebelum malam pacar berlangsung, keluarga terlebih dahulu mengantarkan Samsinar ke tempat peristirahatan terakhir.

Ia dikebumikan siang tadi.

Tanah menutup jasadnya.

Doa-doa dipanjatkan.

Keluarga menangis.

Orang-orang datang menyampaikan belasungkawa.

Lalu hari bergerak menuju sore.

Dan malam datang.

Di rumah orang tua Samsinar di Arateng, keluarga kembali berkumpul.

Tetapi kali ini bukan untuk pemakaman.

Untuk malam pacar Bota.

Bayangkan perasaan keluarga itu.

Siang tadi baru meninggalkan makam.

Malam ini berdiri di bawah tenda pernikahan.

Tadi siang air mata karena kehilangan.

Malam ini harus tersenyum karena pernikahan.

Hidup memang tidak selalu memberi kita waktu untuk memilih suasana hati.

Dan lihat Bota

Ia memakai pakaian pengantin pria.

Barangkali Samsinar pernah membayangkan putranya seperti ini.

Berdiri gagah.

Berpakaian adat.

Bersiap menjadi suami.

Seorang ibu biasanya menyimpan bayangan itu jauh sebelum hari pernikahan datang.

Mungkin Samsinar pernah membayangkan:

“Nanti kalau Bota menikah…”

Kalimat itu mungkin pernah terucap.

Atau mungkin hanya tersimpan di dalam hati.

Sayangnya, kalimat itu berhenti sebelum sampai pada ujungnya.

Samsinar tidak sempat melihat.

Tidak sempat menyentuh pakaian pengantin anaknya.

Tidak sempat membetulkan kerahnya.

Tidak sempat berkata:

“Gagah sekali anak Ibu.”

Lihat Darwis

Di samping Bota ada Darwis.

Ayahnya.

Suami Samsinar.

Mereka berdiri bersama dalam pakaian adat.

Dari foto, mungkin terlihat gagah.

Tetapi kita tidak tahu apa yang ada di balik wajah itu.

Darwis baru saja kehilangan istrinya.

Siang tadi ia mungkin masih berdiri di dekat makam Samsinar.

Malam ini ia berdiri bersama putra-putranya.

Seharusnya ada istrinya di sana.

Seharusnya mereka berdua menikmati malam ini bersama.

Menyaksikan anak mereka bersiap menikah.

Tetapi Darwis harus menerima kenyataan:

istrinya pergi lebih dahulu.

Dan mungkin rumah orang tua Samsinar malam ini terasa berbeda bagi Darwis.

Sebab ia datang bersama anak-anaknya.

Tetapi tidak bersama istrinya.

Lihat Raihan

Raihan juga ada.

Berdiri bersama ayah dan kedua saudaranya.

Mengenakan pakaian adat.

Mungkin ia mencoba tersenyum.

Tetapi ia juga baru kehilangan ibu.

Tidak mudah.

Tidak mungkin mudah.

Namun malam ini ia harus berdiri.

Untuk Bota.

Untuk Khalid.

Untuk ayahnya.

Untuk keluarga.

Kadang-kadang keluarga memang saling menguatkan bukan dengan kata-kata.

Cukup dengan berdiri bersama.

Dan ada Khalid

Yang paling kecil.

Masih TK.

Sebentar lagi masuk SD.

Khalid mungkin belum sepenuhnya memahami arti kematian.

Mungkin ia hanya tahu bahwa ibunya tidak ada.

Tetapi nanti ia akan besar.

Ia akan membaca foto ini.

Ia akan melihat dirinya sendiri berdiri di antara ayah dan saudara-saudaranya.

Ia akan melihat Bota dalam pakaian pengantin.

Lalu seseorang akan menceritakan kepadanya:

“Malam itu, Ibumu baru saja dimakamkan siang harinya.”

Dan mungkin baru saat dewasa ia memahami betapa berat malam itu bagi keluarganya.

Rumah masa kecil Samsinar

Ada sesuatu yang membuat kisah ini terasa lebih pedih.

Rumah itu adalah rumah orang tua Samsinar.

Rumah tempat ia dibesarkan.

Malam ini putranya menjalani malam pacar di sana.

Seolah-olah kehidupan sedang membawa anak-anak Samsinar kembali ke tempat asal ibunya.

Tempat Samsinar pernah menjadi seorang anak.

Kini di tempat yang sama, anaknya menjadi pengantin.

Tetapi orang yang menjadi jembatan antara dua generasi itu sudah tidak ada.

Samsinar tidak ada di ruang tamu.

Tidak ada di halaman.

Tidak ada di antara keluarga.

Tidak ada dalam foto.

Namun mungkin jejak hidupnya ada di mana-mana.

Di rumah itu.

Di keluarganya.

Di anak-anaknya.

Di malam pacar itu sendiri.

Seandainya Samsinar masih ada

Coba bayangkan sedikit saja.

Seandainya Samsinar masih hidup malam ini.

Mungkin ia duduk di suatu sudut.

Memperhatikan Bota.

Mungkin ia tersenyum.

Mungkin ia menangis.

Mungkin sesekali membetulkan pakaian anaknya.

Mungkin sibuk memastikan semua berjalan baik.

Mungkin nanti ia berdiri bersama Darwis dan ketiga putranya.

Lalu seseorang mengambil foto.

Klik.

Satu foto keluarga.

Samsinar pasti ingin foto seperti itu.

Ia sangat mendambakan bisa duduk bersama Darwis dan ketiga putranya.

Bota.

Raihan.

Khalid.

Tetapi Allah memberinya jalan yang berbeda.

Hanya kurang satu malam

Ini yang paling sulit diterima.

Samsinar tidak pergi berbulan-bulan sebelum pernikahan.

Tidak setahun sebelumnya.

Ia pergi sehari sebelum malam pacar.

Dan siang tadi ia sudah dikebumikan.

Malam ini Bota sudah memakai pakaian pengantin.

Kalau umur Samsinar hanya ditambah sedikit saja…

Mungkin ia masih bisa melihat semuanya.

Mungkin masih bisa tersenyum.

Mungkin masih bisa menangis bahagia.

Mungkin masih bisa memeluk anaknya.

Tetapi manusia tidak pernah diberi tahu berapa lama waktu yang tersisa.

Kita hanya diberi hari ini.

Dan Samsinar ternyata hanya sampai kemarin.

Ada foto yang menjadi sangat mahal

Karena itu, foto empat lelaki ini jangan dianggap sebagai foto biasa.

Darwis dan tiga putranya.

Pakaian adat.

Bota dalam pakaian pengantin.

Malam pacar.

Rumah orang tua Samsinar.

Arateng.

Sidrap.

Semua detail itu kelak akan menjadi cerita.

Bota mungkin akan melihatnya lagi puluhan tahun mendatang.

Raihan akan melihatnya.

Khalid akan melihatnya.

Darwis akan melihatnya.

Dan setiap kali foto itu dibuka, mereka mungkin akan teringat satu nama.

Samsinar.

Perempuan yang tidak ada dalam foto.

Tetapi justru menjadi alasan mengapa foto itu terasa begitu emosional.

Ibu tidak selalu harus berada di dalam foto

Ada orang yang tidak tertangkap kamera.

Tetapi kehadirannya memenuhi seluruh gambar.

Samsinar mungkin seperti itu.

Ia tidak berdiri di antara Darwis dan ketiga putranya.

Tetapi cinta dan didikannya ada di sana.

Ia tidak mengenakan pakaian adat malam ini.

Tetapi anak-anaknya mengenakannya.

Ia tidak melihat Bota memakai pakaian pengantin.

Tetapi Bota memakainya setelah ia pergi.

Ia tidak bisa hadir di rumah orang tuanya malam ini.

Tetapi rumah itu menyimpan masa kecilnya.

Dan mungkin itulah yang paling menyedihkan:

seorang ibu tidak sempat melihat anaknya menjadi pengantin di rumah tempat ia sendiri pernah menjadi anak.

Selamat jalan, Samsinar

Kemarin malam engkau pergi.

Siang tadi engkau dikebumikan.

Malam ini anakmu menjalani malam pacar.

Di rumah orang tuamu sendiri.

Di Arateng.

Di rumah tempat masa kecilmu pernah tinggal.

Di sana Darwis berdiri bersama Bota, Raihan, dan Khalid.

Empat lelaki yang mungkin merupakan bagian terbesar dari hidupmu.

Mereka memakai pakaian adat.

Mereka berdiri bersama.

Mereka terlihat kuat.

Tetapi kami tahu ada satu sosok yang mereka cari dalam hati.

Engkau.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu.

Menerima amal ibadahmu.

Melapangkan kuburmu.

Menerangi alam barzakhmu.

Menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga Allah menguatkan Darwis.

Menguatkan Bota.

Menguatkan Raihan.

Menguatkan Khalid.

Dan seluruh keluarga yang malam ini harus belajar tersenyum sambil menahan kehilangan.

Bota…

Nanti ketika engkau menikah, mungkin engkau akan berdiri di bawah tenda yang sudah disiapkan ibumu.

Mungkin engkau akan melihat banyak wajah.

Tetapi ada satu wajah yang paling ingin engkau lihat.

Wajah yang tidak akan datang lagi.

Jangan sedih karena ibumu tidak sempat melihatmu menjadi pengantin.

Justru jadikan pernikahanmu sebagai hadiah terakhir untuk cintanya.

Jadilah suami yang baik.

Jadilah ayah yang baik.

Jaga keluargamu.

Karena mungkin itulah yang paling ingin dilihat ibumu.

Dan kalau nanti engkau berfoto lagi bersama ayah dan saudara-saudaramu, simpan baik-baik foto itu.

Sebab suatu hari nanti, ketika semua orang di dalam foto itu semakin tua, akan ada satu hal yang tetap sama:

mereka semua adalah anak-anak dari seorang perempuan bernama Samsinar.

Perempuan yang malam ini tidak terlihat.

Tetapi terasa.

Sangat terasa.

Di rumah masa kecilnya. Di tengah anak-anaknya. Di antara doa-doa keluarga. Dan di setiap air mata yang jatuh diam-diam. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini