Parepare, katasulsel.com — Warga Kota Parepare kembali dihadapkan pada kenaikan harga barang dan jasa pada Mei 2026. Data terbaru menunjukkan inflasi secara year-on-year (y-on-y) mencapai 3,17 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,75.
Kondisi ini menandakan adanya tekanan harga yang cukup terasa di berbagai kelompok pengeluaran masyarakat, terutama pada kebutuhan harian.
Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh meningkatnya harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 5,34 persen.
Selain itu, sejumlah kelompok lain juga ikut mengalami kenaikan meski dalam persentase yang lebih moderat, seperti pakaian dan alas kaki sebesar 0,42 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,30 persen, serta kesehatan sebesar 0,35 persen.
Kelompok transportasi juga tercatat naik 1,69 persen, disusul informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,02 persen. Sektor rekreasi, olahraga, dan budaya naik 0,74 persen, sementara pendidikan meningkat 2,14 persen.
Kenaikan juga terlihat pada kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran yang naik 2,26 persen.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 11,25 persen, menjadi kenaikan tertinggi dibanding kelompok lainnya.
Di sisi lain, tidak semua kelompok mengalami kenaikan. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga justru mengalami penurunan sebesar 2,23 persen, yang sedikit menahan laju inflasi lebih tinggi.
Selain inflasi tahunan, tekanan harga juga terlihat dalam jangka pendek. Inflasi month-to-month (m-to-m) pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,32 persen, menunjukkan adanya kenaikan harga dibanding bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi year-to-date (y-to-d) hingga Mei 2026 berada di angka 1,86 persen, menggambarkan akumulasi kenaikan harga sejak awal tahun.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa dinamika harga di Parepare masih cukup fluktuatif, terutama pada kebutuhan sehari-hari masyarakat yang sensitif terhadap perubahan harga bahan pangan dan jasa.
Pemerhati ekonomi daerah menilai, tekanan inflasi seperti ini perlu diantisipasi dengan menjaga stabilitas pasokan barang serta memperkuat distribusi kebutuhan pokok agar tidak terjadi lonjakan harga yang lebih tajam di bulan-bulan berikutnya.(*)
