Parepare, Katasulsel.com – Parepare dikenal sebagai kampung halaman Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie. Namun, jauh sebelum melahirkan tokoh besar bangsa, kota di pesisir barat Sulawesi Selatan ini telah memainkan peran penting sebagai jalur perdagangan dan pelabuhan yang menghubungkan berbagai wilayah di Nusantara.

Letaknya yang berada di sebuah teluk menghadap Selat Makassar menjadikan Parepare berkembang sebagai kota pelabuhan sejak berabad-abad lalu. Posisi strategis tersebut mendorong aktivitas perdagangan, mempertemukan pedagang dari berbagai daerah, sekaligus membentuk Parepare sebagai kota yang tumbuh dengan masyarakat yang beragam.

Berawal dari Kerajaan Soreang dan Bacukiki

Sejarah Parepare tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Kerajaan Soreang dan Kerajaan Bacukiki. Dalam sejumlah catatan lontara disebutkan bahwa kawasan ini mulai berkembang sejak sekitar abad ke-14 dan ke-15 sebagai wilayah pesisir yang memiliki peran penting dalam aktivitas perdagangan.

Salah satu cerita yang paling dikenal menyebutkan, Raja Gowa XI, Manrigau Daeng Bonto Karaeng Tunipalangga, pernah berkunjung ke kawasan tersebut. Melihat letaknya yang strategis, ia mengucapkan kalimat “Bajiki ni Pare” yang bermakna kurang lebih “baik dijadikan pelabuhan.” Ungkapan itulah yang diyakini menjadi asal-usul nama Parepare hingga dikenal sekarang.

Berkembang Menjadi Kota Pelabuhan

Memasuki masa kolonial Belanda, Parepare berkembang menjadi salah satu pusat pemerintahan dan perdagangan di wilayah Ajatappareng. Letaknya yang terlindung oleh teluk menjadikan pelabuhan Parepare ramai disinggahi kapal-kapal yang mengangkut hasil bumi dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian menjadikan Parepare sebagai pusat administrasi Afdeling Parepare, yang membawahi sejumlah wilayah seperti Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang, Pinrang, dan Parepare sendiri. Peran tersebut membuat kota ini semakin berkembang sebagai pusat ekonomi sekaligus jalur distribusi hasil pertanian dan perkebunan.

Resmi Menjadi Kota

Setelah Indonesia merdeka, struktur pemerintahan Parepare mengalami sejumlah perubahan mengikuti kebijakan nasional. Melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, Parepare berstatus Kota Praja Tingkat II. Pada 1963, istilah Kota Praja berubah menjadi Kotamadya, kemudian menjadi Kota Parepare setelah berlakunya kebijakan pemerintahan daerah.

Sementara itu, berdasarkan keputusan DPRD setempat, 17 Februari 1960 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Parepare dan diperingati setiap tahun.

Kampung Halaman B.J. Habibie

Nama Parepare semakin dikenal luas setelah Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie, lahir di kota ini pada 25 Juni 1936. Hingga kini, jejak Habibie masih menjadi bagian penting dari identitas Parepare melalui berbagai destinasi, seperti Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun, Museum B.J. Habibie, hingga Masjid Terapung BJ Habibie yang menjadi daya tarik wisata.

Keberadaan ikon-ikon tersebut menjadikan Parepare bukan hanya kota bersejarah, tetapi juga destinasi wisata edukasi yang banyak dikunjungi wisatawan.

Parepare Hari Ini

Kini Parepare terus berkembang sebagai salah satu kota penting di Sulawesi Selatan. Selain dikenal sebagai kota pelabuhan, Parepare juga menjadi pusat perdagangan, jasa, pendidikan, dan pariwisata di kawasan Ajatappareng.

Didukung panorama Teluk Parepare, ruang publik yang semakin tertata, serta kekayaan sejarah dan budayanya, kota ini menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Tak hanya menyimpan kisah masa lalu, Parepare juga terus tumbuh sebagai kota yang memadukan sejarah, budaya, dan modernitas dalam satu kawasan.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Enrekang hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Enrekang terbaru di sini