Sidrap, Katasulsel.com — Ijazah Sarjana Hukum di tangan. Pilihan pekerjaan terbuka lebar.
Tetapi Syahrul S, S.H justru memilih jalan yang mungkin tidak pernah dibayangkan banyak orang.
Ia masuk ke kandang ayam.
Bukan sebagai pegawai kantoran. Bukan pula mengejar seragam instansi pemerintah.
Lulusan Sarjana Hukum ini memilih membangun usaha ayam broiler dari nol.
Baca konten eksklusif kami lainnya
Dan untuk memulainya, ia harus berani mengambil keputusan yang tidak kecil.
Mobil dan motornya dijual.
Sebagian modal usaha juga diperoleh melalui pembiayaan bank.
Semua dilakukan demi satu keyakinan: membangun usaha sendiri.
Perjalanan itu dimulai pada 2024.
Dengan modal terbatas, Syahrul mulai belajar mengelola peternakan ayam broiler.
Dunia yang sama sekali berbeda dari ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah.
Ia harus memahami bagaimana menjaga kondisi kandang, mengatur pakan, memperhatikan suhu, hingga memastikan kesehatan puluhan ribu ayam.
Tidak selalu mudah.
Ada masa ketika ia harus menghadapi berbagai persoalan di kandang. Ada pula kekhawatiran ketika kesehatan ayam terganggu dan hasil panen tidak sesuai harapan.
Tetapi Syahrul memilih belajar dari setiap persoalan.
Baginya, peternakan bukan bisnis yang bisa dijalankan hanya dengan modal uang.
Harus ada disiplin, ketelitian dan kemauan untuk terus belajar.
Kandang pertamanya yang beralamatkan di Jl. Pacuan Kuda, Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang pulu, Kabupaten Sidrap memiliki kapasitas sekitar 14.000 ekor ayam.
Dari satu kandang itu, Syahrul perlahan membangun fondasi usahanya.
Ia tidak terburu-buru.
Yang penting baginya adalah bagaimana satu kandang bisa dikelola dengan baik sebelum melangkah lebih jauh.
Kerja keras itu kemudian mulai menunjukkan hasil.
Pada 2026, Syahrul membangun kandang kedua dengan kapasitas sekitar 20.000 ekor.
Kini kapasitas usahanya mencapai sekitar 34.000 ekor ayam broiler.
Dari seorang sarjana hukum yang memilih keluar dari jalur pekerjaan yang umum, Syahrul kini justru menjadi pengusaha muda di sektor peternakan.
Pilihan itu tentu bukan tanpa alasan.
Ia melihat peternakan memiliki peluang besar sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Ada tenaga kerja yang terserap.
Ada aktivitas ekonomi yang bergerak.
Dan ada kebutuhan pangan yang terus berjalan.
Di balik perkembangan usahanya, Syahrul menyebut doa dan dukungan kedua orang tua menjadi salah satu sumber kekuatan terbesarnya.
Ketika memulai dari nol, dukungan keluarga menjadi modal yang tidak terlihat tetapi sangat berarti.
Kini, setelah usahanya berkembang, Syahrul tidak ingin perjalanan tersebut berhenti pada dirinya sendiri.
Ia berharap semakin banyak anak muda berani masuk ke sektor peternakan.
Namun menurutnya, keberanian anak muda juga perlu didukung ekosistem yang memadai.
Ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian kepada pengusaha muda, khususnya peternak, melalui pelatihan, pendampingan, kemudahan akses permodalan, serta dukungan sarana dan prasarana.
Sebab banyak anak muda mungkin memiliki kemauan untuk memulai usaha.
Tetapi tidak semuanya memiliki akses modal dan pengetahuan yang cukup.
Menurut Syahrul, jika dukungan tersebut semakin kuat, peternak muda akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Perjalanan Syahrul juga menyisakan satu pesan sederhana.
Jangan terlalu cepat menganggap ijazah sebagai tujuan akhir.
Ijazah adalah bekal.
Sementara jalan menuju kesuksesan bisa sangat beragam.
Bagi Syahrul, jalan itu ternyata bukan di balik meja kantor.
Melainkan di antara kandang, pakan, ayam broiler, risiko usaha, dan kerja keras.
Ia pernah menjual mobil dan motor untuk memulai.
Kini, dari satu kandang berkapasitas 14.000 ekor, ia telah berkembang menjadi dua kandang dengan kapasitas sekitar 34.000 ekor.
Bukan karena jalannya mudah.
Tetapi karena ia memilih untuk tetap berjalan.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesar dari kisah Syahrul:
Kadang kesuksesan bukan soal memilih jalan yang paling aman, tetapi berani membangun jalan sendiri dari nol. (edybasri)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
