Bantaeng, Katasulsel.com – Bentuknya menyerupai ketupat, tetapi kaloli punya cara sendiri untuk dikenali. Makanan tradisional ini dibuat dari beras yang dibungkus menggunakan daun aren, kemudian dimasak hingga matang. Di Bantaeng, kaloli tidak sekadar dikenal sebagai makanan, tetapi juga hadir dalam perayaan dan upacara adat masyarakat Gantarangkeke.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan mencatat kaloli sebagai salah satu makanan khas daerah Bantaeng. Panganan tersebut disebut menyerupai ketupat, tetapi memiliki rasa tawar dan biasa disandingkan dengan hidangan lain.
Kaloli juga masih mendapat ruang dalam agenda kebudayaan Bantaeng. Pemerintah Kabupaten Bantaeng menggelar Festival Kaloli pada Desember 2025 sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Bantaeng ke-771. Dalam kegiatan tersebut, kaloli disajikan bersama gagape sebagai hidangan khas daerah.
Kaloli Dibuat dari Beras
Bahan utama kaloli sebenarnya sederhana: beras dan daun aren.
Dalam dokumentasi Budaya Indonesia, kaloli disebut sebagai kuliner khas masyarakat Batulabbu, Kelurahan Lembang, Kecamatan Gantarangkeke, Bantaeng. Beras dibungkus dengan daun aren, kemudian tiga buah kaloli disatukan dan diikat sebelum dimasak menggunakan kayu bakar.
Bentuk ikatan tersebut menjadi salah satu ciri yang membuat kaloli mudah dikenali. Ujung bungkusannya menyerupai passapu, penutup kepala tradisional masyarakat Bugis-Makassar.
Penelitian mengenai gastronomi masyarakat Gantarangkeke juga mencatat bentuk tersebut memiliki makna simbolik. Ikatan pada kaloli dimaknai sebagai gambaran hubungan kekerabatan masyarakat Bantaeng.
Tidak Setiap Hari Ada di Meja Makan
Berbeda dengan ketupat yang dapat ditemukan pada banyak kesempatan, kaloli memiliki ruang yang lebih khusus dalam tradisi masyarakat Gantarangkeke.
Dokumentasi kuliner masyarakat Batulabbu menyebut kaloli biasanya hadir saat hari raya dan upacara adat Gantarangkeke. Penelitian lain juga mencatat makanan ini menjadi sajian yang hadir dalam pelaksanaan upacara adat di wilayah tersebut.
Dalam konteks tersebut, kaloli memiliki hubungan dengan tradisi, bukan sekadar kebutuhan makan sehari-hari.
Sebuah penelitian mengenai tradisi masyarakat Gantarangkeke bahkan mencatat kaloli sebagai salah satu sajian dalam tradisi pa’jukukang. Makanan ini dikaitkan dengan pesan tentang hubungan masyarakat dengan lingkungan dan sumber pangan, terutama keberadaan sawah yang menjadi tempat masyarakat memperoleh beras.
Bentuknya Menyimpan Cerita
Kaloli mungkin terlihat sederhana ketika sudah tersaji di atas piring. Namun, proses membuatnya membutuhkan ketelitian sejak tahap pembungkusan.
Daun aren digunakan untuk membungkus beras sebelum beberapa buah kaloli diikat menjadi satu. Setelah itu, ikatan tersebut dimasak menggunakan kayu bakar hingga beras matang.
Cara tersebut membuat kaloli berbeda dari nasi biasa. Beras tidak dimasak langsung dalam wadah terbuka, melainkan terlebih dahulu ditempatkan dalam bungkus daun yang sekaligus membentuk tampilannya.
Kaloli kemudian disajikan bersama lauk. Dokumentasi kuliner masyarakat Batulabbu menyebut makanan ini biasa disantap bersama daging kuda dan sop.
Kaloli Masih Dibawa ke Ruang Publik
Keberadaan Festival Kaloli menunjukkan bahwa makanan tradisional tersebut masih mendapat ruang dalam agenda kebudayaan Bantaeng.
Festival Kaloli pertama kali digelar pada 6 Desember 2021 sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Bantaeng ke-767. Kegiatan tersebut kemudian kembali digelar pada 2025.
Pada Festival Kaloli 2025, Pemerintah Kabupaten Bantaeng menghadirkan kaloli dan gagape sebagai bagian dari sajian kuliner daerah. Kegiatan itu juga melibatkan pemerintah daerah, kecamatan, desa, kelurahan, komunitas seni, serta masyarakat.
Dari beras yang dibungkus daun aren hingga hidangan yang hadir dalam upacara adat dan festival, kaloli masih menempati ruang tersendiri dalam kuliner Bantaeng.
