Papan klasemen mulai berbicara. Pangkep melesat ke puncak, Makassar memburu ketertinggalan emas, sementara Enrekang, Pinrang dan Parepare menghadapi pekerjaan besar: membuktikan bahwa pembinaan atlet daerah bukan sekadar rutinitas menjelang pertandingan.
Makassar, katasulsel.com — Ada yang menarik dari hari pertama Porprov Sulawesi Selatan XVIII 2026. Bukan hanya siapa yang meraih medali emas, tetapi juga siapa yang tiba-tiba berada di luar dugaan.
Pangkep, misalnya.
Kabupaten yang selama ini tidak selalu berada di barisan terdepan dalam pembicaraan olahraga Sulawesi Selatan itu justru membuka kompetisi dengan cara yang mencolok. Hingga Sabtu, 7 November 2026, Pangkep memimpin klasemen sementara dengan 18 medali emas.
Makassar harus puas di posisi kedua. Bone, yang menjadi tuan rumah, berada di urutan ketiga.
Namun, ada cerita lain yang menarik diperhatikan. Enrekang, Pinrang, dan Parepare belum terlihat dalam jajaran sepuluh besar klasemen sementara berdasarkan rekapitulasi yang tersedia.
Tiga daerah ini punya pekerjaan yang tidak ringan. Bukan sekadar mengejar angka di tabel, melainkan menunjukkan bahwa pembinaan olahraga di daerah masing-masing mampu melahirkan atlet yang kompetitif.
Porprov memang baru dimulai. Tetapi papan klasemen awal sering kali menjadi cermin yang menarik untuk membaca peta kekuatan olahraga daerah.
Pangkep Membuka Mata, Makassar Kehilangan Posisi Teratas
Mari melihat angka-angkanya.
Pangkep mengumpulkan 18 emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Total 31 medali.
Makassar justru mengoleksi 32 medali, satu lebih banyak dibanding Pangkep. Rinciannya 8 emas, 13 perak, dan 11 perunggu.
Tetapi dalam klasemen yang mengutamakan medali emas, jumlah keseluruhan medali tidak otomatis menentukan posisi.
Inilah menariknya olahraga kompetitif. Banyak medali belum tentu berarti berada di puncak. Satu emas bisa lebih menentukan dibanding beberapa perak dan perunggu.
Bone berada di peringkat ketiga dengan 6 emas, 5 perak, dan 17 perunggu. Tuan rumah ini sudah memperlihatkan daya saing, meski perjalanan masih panjang.
Pangkep setidaknya sudah mengirim pesan: jangan terlalu cepat menebak siapa yang akan menguasai Porprov.
Enrekang, Pinrang, Parepare: Bukan Sekadar Urusan Medali
Di kawasan Ajatappareng dan sekitarnya, hasil Porprov tentu punya arti tersendiri.
Enrekang, Pinrang, dan Parepare bukan hanya membawa nama kontingen. Mereka membawa hasil kerja panjang pembinaan atlet, pelatih, organisasi olahraga, serta dukungan pemerintah daerah.
Karena itu, hasil pertandingan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa medali yang diperoleh.
Pertanyaan yang lebih penting justru: bagaimana proses pembinaan atlet selama ini?
Apakah atlet sudah dipersiapkan jauh sebelum Porprov? Apakah kompetisi antarklub dan antarkecamatan berjalan secara berkelanjutan? Apakah pelatih mendapat dukungan memadai? Apakah atlet potensial mendapatkan fasilitas dan kesempatan bertanding?
Pertanyaan-pertanyaan itu layak menjadi bahan evaluasi.
Sebab, prestasi olahraga tidak bisa dibangun dengan sistem kebut semalam. Tidak cukup mengumpulkan atlet beberapa bulan sebelum Porprov, kemudian berharap mereka pulang membawa banyak medali.
Medali memang diperebutkan selama pertandingan. Tetapi kualitas atlet dibentuk jauh sebelum pertandingan dimulai.
Pinrang dan Parepare, Ada Gengsi Kawasan
Pinrang dan Parepare punya kedekatan geografis, sosial, dan aktivitas masyarakat yang kuat. Keduanya juga berada dalam kawasan yang memiliki dinamika olahraga tersendiri.
Karena itu, perkembangan prestasi atlet kedua daerah menarik untuk diikuti.
Bukan untuk saling menjatuhkan. Justru untuk melihat bagaimana masing-masing daerah mengembangkan potensi atletnya.
Pinrang punya kesempatan membuktikan bahwa pembinaan olahraga tidak hanya menghasilkan atlet yang mampu bersaing di tingkat kabupaten.
Parepare juga punya kepentingan yang sama. Kota ini tentu ingin menunjukkan bahwa keterbatasan wilayah bukan alasan untuk membatasi prestasi olahraga.
Sementara Enrekang memiliki tantangan tersendiri. Potensi atlet daerah harus ditemukan, dibina, dan diberi ruang kompetisi yang cukup.
Ketiganya tidak perlu sekadar mengejar popularitas kontingen lain. Yang dibutuhkan adalah prestasi yang tumbuh dari sistem pembinaan yang sehat.
Jangan Terjebak pada Klasemen Hari Pertama
Ada satu hal yang perlu digarisbawahi: klasemen 7 November bukan hasil akhir.
Porprov XVIII Sulsel baru saja dibuka. Kompetisi dijadwalkan berlangsung hingga 14 November 2026.
Artinya, masih ada banyak nomor pertandingan yang bisa mengubah peta persaingan.
Pangkep bisa saja mempertahankan puncak. Makassar bisa mengejar. Bone dan Wajo bisa memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah.
Enrekang, Pinrang, dan Parepare pun masih punya kesempatan memperbaiki posisi.
Tetapi justru di sinilah nilai penting Porprov. Hasil pertandingan harus menjadi bahan membaca kekuatan olahraga daerah, bukan sekadar bahan membuat perayaan ketika medali datang atau mencari alasan ketika hasil belum sesuai harapan.
Pemerintah daerah, KONI, pengurus cabang olahraga, dan pelatih perlu menjadikan kompetisi ini sebagai evaluasi terbuka.
Cabang olahraga mana yang berhasil? Nomor mana yang masih tertinggal? Atlet mana yang potensial dikembangkan untuk tingkat nasional? Di mana kelemahan pembinaan yang harus diperbaiki?
Pertanyaan seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar menghitung berapa kali nama daerah muncul di papan klasemen.
Porprov Bukan Hanya Panggung Pemenang
Pada akhirnya, Porprov bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium.
Ada atlet yang bertanding dengan segala keterbatasan. Ada pelatih yang bertahun-tahun mendampingi anak didiknya. Ada orang tua yang berharap anaknya bisa mengharumkan nama daerah.
Ada pula pemerintah daerah yang harus membuktikan bahwa anggaran pembinaan olahraga benar-benar menghasilkan sesuatu.
Pangkep sudah membuat kejutan. Makassar masih punya pekerjaan mengejar. Bone dan Wajo sedang menikmati atmosfer sebagai tuan rumah.
Untuk Enrekang, Pinrang, dan Parepare, pertandingan belum selesai.
Tetapi ada satu pesan yang sebaiknya dibawa pulang dari Porprov kali ini: jangan hanya sibuk mempersiapkan kontingen ketika pesta olahraga sudah dekat.
Siapkan atlet sejak jauh hari. Bangun kompetisi secara rutin. Perhatikan pelatih. Rawat bibit-bibit muda.
Sebab, medali emas yang terlihat berkilau di podium sesungguhnya merupakan hasil dari kerja panjang yang sering tidak terlihat.
Dan setelah Porprov ditutup pada 14 November nanti, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai.
Jangan sampai daerah hanya ramai membicarakan medali ketika Porprov berlangsung, lalu kembali melupakan pembinaan begitu pesta olahraga selesai.(*)



