Sidrap, katasulsel.com – Jauh-jauh datang dari Tolitoli, Sulawesi Tengah, ke Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, Gusna, pemilik akun TikTok Ibu Driver, akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka menyusul polemik konten video dan siaran langsung (live streaming) yang selama ini dibuatnya di media sosial.
Dalam konferensi pers di Sidrap, Minggu (8/11/2026), Gusna mengakui selama ini dirinya tidak memahami sepenuhnya muatan, penggunaan bahasa, serta dampak dari konten-konten yang diproduksinya.
Pengakuan itu menjadi bagian paling menonjol dari pernyataan terbukanya. Ia menyebut baru memahami bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai aktivitas biasa di media sosial ternyata dapat dinilai tidak pantas, menyinggung perasaan, bertentangan dengan norma kesusilaan, bahkan memicu keresahan di tengah masyarakat.
Persoalan tersebut bahkan telah berkembang hingga berujung pada laporan kepada pihak kepolisian.
“Hal tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk lebih memahami bahwa setiap ucapan, perilaku, dan konten yang disampaikan di ruang publik memiliki konsekuensi serta tanggung jawab,” demikian pernyataan Gusna.
Ia juga mengakui adanya penggunaan kata-kata yang kurang pantas dalam beberapa kontennya, termasuk ungkapan berbahasa Bugis yang dinilai dapat menyinggung nilai kesopanan, kehormatan, adat istiadat, serta norma yang hidup di tengah masyarakat.
Atas kondisi tersebut, Gusna menyampaikan permohonan maaf dari lubuk hati yang paling dalam.
Dalam pernyataan yang disampaikannya di hadapan media di Sidrap, Gusna tidak hanya meminta maaf kepada masyarakat secara umum.
Ia secara khusus menyebut seluruh saudara-saudari yang pernah tersorot, dilibatkan, atau ditampilkan dalam tayangan akun TikTok Ibu Driver.
Tak berhenti di situ, Gusna turut menyampaikan permohonan maaf kepada para ulama, kiai, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat di Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Tengah.
Ia secara khusus menyebut Masri selaku perwakilan masyarakat Malala dan Kepala Dusun II Bambanipa sebagai perwakilan pemerintah setempat.
Salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam pernyataan Gusna adalah permohonan maafnya kepada masyarakat suku Bugis.
Ia menyadari bahwa penggunaan ungkapan tertentu dalam bahasa Bugis dapat bersinggungan dengan nilai kehormatan, moralitas, dan kesopanan yang dijunjung tinggi masyarakat.
Dalam budaya Bugis, siri’ na pacce bukan sekadar ungkapan. Falsafah tersebut melekat pada nilai harga diri, kehormatan, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Karena itu, Gusna secara khusus meminta maaf kepada masyarakat Bugis secara luas, terutama mereka yang merasa tidak nyaman atau tersinggung atas konten-konten yang pernah ditayangkannya.


