Selain meminta maaf, Gusna juga menyampaikan tiga komitmen pribadi.

Pertama, menjadikan persoalan tersebut sebagai pelajaran besar dan bahan introspeksi untuk memperbaiki diri.

Kedua, tidak lagi membuat video, siaran langsung, maupun konten media sosial yang menggunakan kata-kata tidak pantas, mengandung unsur pornografi, menyinggung kehormatan orang lain, atau bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, dan kepatutan masyarakat.

Ketiga, lebih berhati-hati dalam berbicara, bersikap, dan memproduksi konten serta memahami tanggung jawab sebagai pengguna media sosial.

Gusna bahkan meminta siapa pun yang masih menyimpan video atau konten lama dari akunnya agar bersedia menghapus dan tidak kembali menyebarluaskannya.

Ada satu kalimat menarik dalam penutup permohonan maaf Gusna.

Ia mengaku tidak meminta semua orang untuk langsung melupakan persoalan yang telah terjadi. Namun, ia berharap masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

“Saya tidak meminta semua orang untuk langsung melupakan persoalan ini. Namun, saya berharap masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, belajar dari kesalahan, dan membuktikan perubahan melalui sikap serta perilaku saya ke depan,” demikian pernyataannya.

Gusna menutup pernyataan dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan teguran, nasihat, dan perhatian kepadanya.

Ia juga berharap Allah SWT mengampuni kekhilafannya dan memberikan petunjuk agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Kini, setelah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka, komitmen Gusna untuk mengubah perilaku bermedia sosial menjadi hal yang akan diuji oleh waktu. Publik tentu menunggu pembuktian, bukan sekadar pernyataan.(*)