Oleh: Edy Basri
Kalau saya membaca data ini sambil minum kopi, saya hampir tersedak.
Bukan karena nilainya besar.
Justru karena nilainya kecil.
Hanya sekitar Rp6,2 juta.
Nama paketnya panjang sekali: Pengawasan Rehabilitasi Lapangan Voli Stadion Ganggawa dan Lapangan Petanque Stadion Ganggawa.
Yang membuat saya tersenyum bukan angka Rp6 jutanya.
Melainkan kata “pengawasan”.
Saya jadi membayangkan seorang pengawas datang ke stadion pagi-pagi. Membawa map. Membawa pena. Sesekali mengangguk serius. Sesekali melihat tukang bekerja. Sesekali mengukur sesuatu yang mungkin tidak perlu diukur.
Lalu saya bertanya dalam hati.
Kalau proyek fisiknya bernilai ratusan juta rupiah, apakah pengawas Rp6 juta ini benar-benar punya tugas yang ringan?
Atau justru tugasnya berat, tetapi anggarannya yang ringan?
Saya tidak tahu.
Yang saya tahu, dalam dunia proyek pemerintah, pengawasan itu seperti wasit dalam pertandingan sepak bola.
Kalau wasitnya bagus, pertandingan berjalan lancar.
Kalau wasitnya tidak kelihatan, penonton mulai bertanya-tanya.
Maka yang penting bukan angka Rp6 jutanya.
Yang penting adalah hasil pengawasannya.
Apa yang dia awasi?
Apa yang dia temukan?
Apakah ada catatan?
Apakah ada perbaikan?
Atau jangan-jangan semuanya sudah sempurna sejak awal sehingga pengawas hanya perlu menikmati udara Stadion Ganggawa sambil melihat bola terbang ke sana kemari.
Tentu kita berharap yang terakhir itu benar.
Sebab masyarakat Sidrap tidak sedang membeli laporan.
Masyarakat sedang membeli kualitas.
Uang APBD bukan uang yang jatuh dari langit.
Bukan pula tumbuh di pohon mangga.
Itu uang rakyat.
Dikumpulkan sedikit demi sedikit dari berbagai sumber.
Karena itu, proyek sekecil apa pun tetap layak diawasi.
Sering kali perhatian publik hanya tertuju pada proyek miliaran rupiah.
Padahal pengalaman mengajarkan sesuatu.
Masalah besar kadang lahir dari hal-hal yang dianggap kecil.
Karena itu saya selalu percaya satu hal.
Transparansi tidak mengenal nominal.
Rp6 juta harus bisa dijelaskan.
Rp60 juta harus bisa dijelaskan.
Rp600 juta apalagi.
Kalau semuanya terbuka, tidak ada yang perlu dicurigai.
Publik pun tenang.
Pejabat tenang.
Kontraktor tenang.
Pengawas juga bisa tidur nyenyak.
Dan Stadion Ganggawa tetap berdiri gagah.
Tanpa meninggalkan tanda tanya di kepala masyarakat.
Karena dalam proyek pemerintah, yang paling mahal sebenarnya bukan semen, besi, atau cat.
Yang paling mahal adalah kepercayaan publik.
Sekali hilang, nilainya jauh lebih besar daripada angka yang tertulis di kontrak. (*)
