Oleh: Edy Basri

Jika ada proyek yang layak mendapat perhatian serius, menurut saya salah satunya adalah renovasi Ruangan CT Scan di RSUD Nene Mallomo.

Bukan karena angkanya triliunan.

Bukan pula karena ada kegaduhan.

Justru karena ini menyangkut rumah sakit.

Menyangkut pasien.

Menyangkut nyawa manusia.

Data pengadaan menunjukkan renovasi Ruangan CT Scan tersebut menelan anggaran sekitar Rp374 juta dan dikerjakan melalui mekanisme Pengadaan Langsung.

Statusnya juga sudah tertulis tegas: selesai.

Nah, kata “selesai” inilah yang sebenarnya menarik.

Sebab dalam urusan rumah sakit, selesai bukan berarti urusan berakhir.

Justru urusan baru dimulai.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting.

Apakah ruangannya kini lebih baik?

Apakah lebih aman?

Apakah lebih nyaman bagi pasien?

Apakah mendukung pelayanan kesehatan yang lebih cepat?

Ataukah hanya selesai di atas kertas?

Saya tentu berharap yang pertama.

Karena CT Scan bukan ruang biasa.

Bukan ruang rapat.

Bukan ruang arsip.

Bukan pula ruang tempat menyimpan meja dan kursi.

Ini adalah salah satu fasilitas penting yang membantu dokter melihat apa yang tidak terlihat oleh mata.

Karena itu, kualitas renovasinya harus benar-benar terjamin.

Yang menarik, nilai Rp374 juta bukan angka kecil.

Dengan uang sebanyak itu, masyarakat tentu berhak mengetahui apa saja yang direnovasi.

Dindingnya?

Instalasi listriknya?

Pelindung radiasinya?

Sistem pendinginnya?

Atau ada pekerjaan lain yang memang dibutuhkan agar alat CT Scan dapat beroperasi lebih optimal?

Publik tidak perlu menjadi insinyur untuk bertanya.

Tidak perlu menjadi kontraktor untuk penasaran.

Karena uang yang digunakan adalah uang publik.

Maka wajar jika publik ingin mengetahui hasil akhirnya.

Saya sering berpikir begini.

Kalau proyek jalan yang berlubang bisa langsung terlihat masyarakat, proyek rumah sakit sedikit berbeda.

Kerusakan jalan bisa dilihat mata.

Sedangkan kualitas renovasi ruang CT Scan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.

Karena itu transparansi menjadi semakin penting.

Semakin teknis sebuah proyek, semakin besar kebutuhan untuk menjelaskannya kepada masyarakat.

Agar tidak muncul dugaan yang macam-macam.

Agar tidak lahir cerita liar di warung kopi.

Agar masyarakat tahu bahwa uang yang dikeluarkan memang menghasilkan manfaat yang nyata.

Pada akhirnya, yang dicari bukan sekadar bangunan yang tampak baru.

Yang dicari adalah pelayanan yang lebih baik.

Pasien datang dengan harapan.

Keluarga pasien datang dengan kecemasan.

Dokter datang dengan tanggung jawab.

Maka setiap rupiah yang digunakan untuk fasilitas kesehatan seharusnya berujung pada satu tujuan: pelayanan yang lebih berkualitas.

Karena rumah sakit bukan tempat mencari tepuk tangan.

Rumah sakit adalah tempat masyarakat mencari harapan.

Dan harapan itu terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh pekerjaan yang asal selesai. (*)