Guna mendongkrak produktivitas, Bupati menyoroti perlunya pembaruan metode pertanian dari pola konvensional ke modern. Saat ini, Pemkab Sidrap tengah melakukan uji coba pertanian modern di Kelurahan Majelling dan Kecamatan Watang Sidenreng dengan menerapkan pola pemupukan baru.

Dalam formula baru ini, penggunaan urea dan Phonska ditingkatkan dari 500 kg menjadi 750 kg per hektar, pupuk organik Petrokimia dari 500 kg menjadi 3 ton per hektar, serta penggunaan benih dari 30 kg dinaikkan menjadi 80 kg per hektar.

“Logikanya sederhana, kalau tanaman lebih banyak, maka kebutuhan makannya juga harus ditambah. Jika metode ini berhasil, hasil panen di Majelling yang biasanya 9 ton per hektar bisa ditingkatkan lagi. Ini pola mandiri yang akan kita praktikkan,” jelasnya.

Untuk tahun 2026, target penjualan pupuk di Sidrap dipatok lebih tinggi, yakni mencapai 1 juta ton. Terkait hal tersebut, Pemda Sidrap meminta PT Pupuk Indonesia bersama para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) aktif mendampingi petani. Kehadiran mereka diharapkan tidak sekadar mengawal distribusi, melainkan juga melakukan transfer ilmu dan pendampingan teknis.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Jangan sampai Pupuk Indonesia hanya menyerap dana dari petani, tetapi transformasi ilmunya tidak sampai. PPL harus lebih dahulu hadir di lapangan untuk mendampingi petani sejak dini,” tegas Bupati.

Rakor tersebut juga mengevaluasi kondisi musim tanam (MT). Untuk Musim Tanam 1 (MT1) 2026 dinyatakan telah selesai, sementara Musim Tanam 2 (MT2) mulai berjalan di beberapa wilayah. Kecamatan Baranti, Panca Rijang, Kulo, Maritengngae, Watang Sidenreng, Dua Pitue, Pitu Riawa, dan Pitu Riase dilaporkan sudah memulai masa tanam.

Sementara untuk wilayah Kecamatan Tellu Limpoe dan Panca Lautang, petani baru memasuki fase panen. Mereka diimbau untuk segera mengejar pola tanam baru agar siklus pertanaman di Kabupaten Sidrap dapat berjalan seragam.

Guna mendukung percepatan ini, Bupati Syaharuddin telah menyiapkan dukungan infrastruktur pengairan. Proyek pengerjaan irigasi sekunder senilai Rp24 miliar dijadwalkan mulai berjalan pada Juli mendatang, mencakup wilayah Wette’e, Lajonga, Lise, Teteaji, Polewali, hingga Amparita.

Selain itu, normalisasi Sungai Saddang direncanakan dimulai pada Oktober. Untuk menjaga target Indeks Pertanaman (IP) 300, fokus jangka pendek diarahkan pada 18.000 hingga 30.000 hektar sawah tadah hujan yang bersumber dari aliran irigasi. Bupati juga menginstruksikan agar persyaratan administrasi pengambilan pupuk bagi petani dipermudah agar tidak menghambat momentum musim tanam.

Di samping pemenuhan sektor tanaman pangan, Bupati juga mengingatkan pentingnya edukasi bagi petani perkebunan di wilayah komoditas khusus, seperti di Belawae, Buntu Buangin, dan Dengeng-Dengeng. Petani cengkeh di wilayah tersebut memerlukan pasokan pupuk nonsubsidi seperti ZA. Pihak Pupuk Indonesia diharapkan hadir memberikan edukasi maksimal agar produktivitas perkebunan warga ikut meningkat.

Sementara itu, perwakilan PT Pupuk Indonesia (Persero), Aidil, memaparkan bahwa realisasi penebusan pupuk bersubsidi di Kabupaten Sidrap hingga pertengahan Mei 2026 telah mencapai 27%.

Dari tiga komoditas utama (urea, Phonska, dan pupuk organik Petro), jenis Phonska menjadi yang paling tinggi diminati dengan tingkat penebusan mencapai 38%. Angka serapan ini tercatat sebagai yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir untuk periode April–September.

“Kami bersyukur, tahun 2026 ini menjadi tahun dengan angka penebusan tertinggi. Namun, kondisi ini juga menuntut kami untuk memberikan pelayanan ekstra kepada para petani,” kata Aidil.

Lonjakan serapan terlihat signifikan pada komoditas urea. Pada Januari 2026, penebusan mencapai 1.970 ton, naik tajam dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 1.282 ton. Tren kenaikan serupa terjadi pada bulan April; di mana pada April 2024 serapan hanya 380 ton, naik menjadi 955 ton pada 2025, dan melonjak hingga 1.900 ton pada April 2026.

“Hal ini menjadi indikator bahwa dorongan indeks pertanaman di Sidrap meningkat tajam. Tingginya penebusan mencerminkan animo dan semangat yang kuat dari petani untuk segera bercocok tanam,” urainya.

Secara akumulatif, dari total alokasi pupuk subsidi untuk Kabupaten Sidrap sebesar 58.780 ton, hingga Mei ini telah tersalurkan sebanyak 15.713 ton atau berkisar 26%. Puncak permintaan terjadi dalam dua minggu terakhir seiring dengan tingginya curah hujan, terutama di wilayah-wilayah lahan yang sebelumnya ditanami jagung.

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita