Sidrap, katasulsel.com – Di Kelurahan Sidenreng, suasana sawah akhir April 2026 bukan sekadar soal lumpur dan air irigasi. Ada ritme kerja yang seperti “pit stop” di paddock balap motor: cepat, terukur, dan tidak boleh salah setting.

Serka Usman, Babinsa Kelurahan Sidenreng, turun langsung ke “track” pertanian di Poktan Elo Puang, Lingkungan 2, Kecamatan Watang Sidenreng. Ia memantau Luas Tambah Tanam (LTT) sekaligus mendampingi proses pengolahan lahan menjelang Musim Tanam II (MT II) yang akan berjalan Mei hingga Agustus 2026.

Di lapangan, lahan milik petani Wa Anda (65) menjadi salah satu titik yang disorot. Bukan karena berbeda, tetapi karena di situlah fase penting dimulai: “start grid” menuju musim tanam.

Serka Usman tidak sekadar hadir sebagai pengawas. Ia masuk ke detail teknis. Mulai dari kondisi tanah, kedalaman olah lahan, sampai kesiapan air. Dalam istilah petani, ini bukan sekadar turun ke sawah, tapi memastikan “setting-an mesin produksi pangan” benar-benar siap sebelum gas dilepas.

“Kalau di balap motor, ini seperti FP1 sampai qualifying. Kalau salah setting di awal, race panjangnya akan berat,” begitu gambaran sederhana yang kerap dipakai petani muda di Sidrap untuk menjelaskan pentingnya fase persiapan ini.

Di Poktan Elo Puang, suasana kerja terlihat seperti paddock yang sedang sibuk. Traktor menjadi “pit equipment”, petak sawah seperti lintasan yang harus dipastikan bersih dari gangguan, dan petani menjadi rider yang harus siap dengan strategi masing-masing.

Serka Usman memberi arahan pada Wa Anda, petani senior yang masih aktif menggarap lahannya di usia 65 tahun. Fokusnya pada teknik pengolahan tanah agar struktur lahan tidak terlalu keras dan tetap ideal untuk akar padi berkembang.

Di sinilah peran Babinsa terasa bukan sekadar simbol kehadiran aparat, tetapi bagian dari sistem pendampingan yang sudah seperti “race engineer” di dunia balap. Mengamati, mengoreksi, lalu memastikan semua berjalan sesuai target.

MT II tahun 2026 di Sidrap memang diproyeksikan sebagai fase penting. Target LTT bukan hanya angka administratif, tetapi berkaitan langsung dengan ketersediaan pangan. Karena itu, setiap hamparan sawah diperlakukan seperti “lap time” yang harus dijaga konsistensinya.

Di sisi lain, Poktan Elo Puang menjadi salah satu titik yang dianggap strategis. Bukan karena besar atau kecilnya lahan, tetapi karena konsistensi petaninya dalam mengikuti pola tanam dan arahan teknis yang sudah disepakati.

Wa Anda sendiri mengaku terbantu dengan pendampingan yang dilakukan Babinsa. Ia menyebut kehadiran aparat di lapangan bukan hanya memberi arahan, tapi juga semacam “data telemetry” tambahan bagi petani.

“Kalau ada Babinsa turun, kami jadi lebih yakin. Kalau ada yang kurang, langsung dibetulkan. Jadi tidak jalan sendiri,” kurang lebih begitu gambaran yang sering muncul dari petani di wilayah ini.

Di level yang lebih luas, Sidrap memang sudah lama dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan. Tapi tantangan setiap musim tanam selalu berbeda. Cuaca, ketersediaan air, hingga pola tanam yang harus menyesuaikan kondisi terbaru.

Itulah kenapa LTT menjadi indikator penting. Bukan sekadar luas tanam, tapi juga kecepatan dan ketepatan eksekusi di lapangan. Dalam bahasa sederhana petani muda, ini seperti “race pace” yang tidak boleh turun di tengah lomba.

Serka Usman dan jajaran Babinsa lain di wilayah Sidenreng menjalankan fungsi pendampingan yang lebih teknis dari sekadar pengawasan. Mereka memastikan bahwa setiap tahapan dari olah lahan hingga tanam benar-benar berada di jalur yang tepat.

Di beberapa titik, terlihat petani masih meratakan tanah, memperbaiki saluran air, dan memastikan petakan sawah tidak bocor. Aktivitas ini tampak sederhana, tetapi menentukan hasil akhir. Dalam istilah balap, ini seperti memastikan ban, rem, dan suspensi bekerja dalam satu paket sempurna sebelum race dimulai.

Musim Tanam II di Sidrap tahun ini juga membawa ekspektasi tinggi. Selain target produksi, ada dorongan untuk meningkatkan efisiensi lahan. Artinya, setiap petak sawah harus memberi output maksimal tanpa mengorbankan kualitas.

Pendampingan Babinsa menjadi bagian dari ekosistem itu. Tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan penyuluh pertanian, kelompok tani, hingga pemerintah daerah.

Di Elo Puang, pola kerja kolektif ini terlihat jelas. Tidak ada yang berjalan sendiri. Semua bergerak seperti satu tim balap yang punya satu tujuan: finish di garis akhir dengan hasil terbaik.

Meski istilahnya pertanian, tetapi ritme kerja di lapangan sering kali punya nuansa kompetitif. Siapa lebih cepat olah lahan, siapa lebih rapi tanam, siapa lebih efisien air. Semua menjadi bagian dari “race dalam senyap” di sektor pangan.

Namun di balik itu, ada tujuan yang lebih besar: memastikan ketahanan pangan tetap stabil. Dan Sidrap, seperti sudah berkali-kali dibuktikan, selalu menjadi salah satu lumbung yang menjaga ritme itu tetap hidup.

Serka Usman hanya satu dari banyak Babinsa yang bergerak di lapangan. Tapi di Poktan Elo Puang, kehadirannya menjadi bagian dari momentum penting MT II 2026.

Lahan-lahan yang sedang diolah hari ini bukan sekadar tanah basah. Ia adalah “grid start” dari produksi beras beberapa bulan ke depan. Dan seperti balapan panjang, hasil akhir ditentukan bukan hanya oleh kecepatan, tetapi oleh konsistensi sejak awal putaran.

Di Sidrap, musim tanam bukan sekadar rutinitas. Ia sudah menjadi semacam race season tahunan yang selalu ditunggu, diawasi, dan diperjuangkan bersama. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita