Jalur yang Berbeda, Cerita yang Berbeda
SPMB 2026 membagi jalur penerimaan berdasarkan jenjang:
PAUD hanya memiliki domisili dan afirmasi.
SD menambah jalur mutasi.
SMP menjadi yang paling kompleks dengan tambahan jalur prestasi.
Prestasi sendiri tidak hanya soal akademik. Nilai rapor, tes kemampuan akademik, hingga prestasi non-akademik seperti olahraga dan seni turut diperhitungkan.
Di balik sistem yang terlihat rapi, setiap jalur membawa cerita berbeda: ada yang bergantung pada jarak rumah, ada yang mengandalkan nilai, ada pula yang berharap pada jalur afirmasi.
Data Kecil, Dampak Besar
Bagi orang tua, proses ini sering kali tidak sesederhana mengisi formulir.
NISN, data sekolah sebelumnya, hingga biodata anak harus dipastikan benar sejak awal.
“Kalau sudah memiliki NISN, cek dulu datanya. Kalau belum, isi dengan lengkap dan benar,” kata Achi.
Kesalahan satu huruf atau angka bisa berujung pada proses verifikasi ulang yang memakan waktu.
Pengawasan Dibuka Lebar
Dinas Pendidikan Makassar juga membuka ruang pengaduan masyarakat untuk memastikan proses SPMB berjalan transparan.
Laporan dugaan pelanggaran seperti pungli, titip-menitip, atau manipulasi data dapat disampaikan melalui aplikasi LONTARA+.
Di atas kertas, sistem ini dirancang ketat. Di lapangan, pengawasan publik menjadi lapisan tambahan yang diharapkan menjaga integritas proses.
Tahun Ajaran Baru, Tekanan Lama
Setiap tahun ajaran baru selalu membawa harapan yang sama: anak bisa masuk sekolah yang diinginkan.
Namun di balik sistem digital dan jadwal yang terstruktur, SPMB tetap menyimpan ketegangan yang tidak berubah—persaingan, kuota terbatas, dan harapan orang tua yang sering kali lebih besar dari kapasitas sekolah.
Dan hari ini, semua itu kembali dimulai dari satu klik pertama. (*)
