Lalu akses mulai dibuka. Jalan diperbaiki. Orang mulai datang.
Dan tanpa disangka, peminatnya terus bertambah.
“Awalnya memang warga sering ke sini. Setelah akses dibuka, ternyata banyak yang datang. Dari situ kami mulai benahi pelan-pelan,” ujarnya.
Kini, fasilitas mulai dilengkapi. Gazebo berdiri di beberapa titik. Area bakar ikan disiapkan. Ban untuk river tubing tersedia. Semua dikelola secara swadaya oleh masyarakat.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Menariknya, tidak ada tiket masuk.
Pengunjung hanya membayar Rp15 ribu untuk menyewa ban. Selebihnya, mereka bebas menikmati alam.
Sederhana. Tapi justru itu daya tariknya.
Di tengah banyaknya destinasi wisata modern, Batu Tengnga hadir tanpa kemewahan—namun penuh kehangatan.
Dan di libur Lebaran ini, tempat itu berubah menjadi ruang bahagia.
Tempat di mana keluarga berkumpul.
Tempat di mana tawa mengalir… bersama arus sungai.(*)
Update terbaru: 23 Maret 2026 14:58 WIB
