Sidrap, katasulsel.com — Ada pemandangan yang selalu berulang setiap menjelang 10 Muharram di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Di tengah ramainya aktivitas masyarakat menyambut salah satu hari istimewa dalam kalender Islam, para emak-emak tampak memenuhi pasar tradisional untuk berburu timba plastik, baskom, ember, dan berbagai perlengkapan rumah tangga lainnya.

Sementara itu, di masjid-masjid, warga berlomba-lomba menyalurkan sedekah. Ada yang membawa beras, gula, minyak goreng, perlengkapan ibadah, hingga uang tunai. Semua dilakukan dengan satu harapan yang sama, yakni memperoleh keberkahan di bulan Muharram yang diyakini memiliki banyak keutamaan.

Tradisi tersebut telah mengakar di tengah masyarakat Sidrap dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi sebagian warga, 10 Muharram bukan hanya momentum memperbanyak ibadah, tetapi juga kesempatan untuk berbagi rezeki kepada sesama.

Menariknya, timba plastik menjadi salah satu barang yang paling banyak dicari menjelang peringatan 10 Muharram. Barang sederhana itu biasanya dijadikan sedekah, hadiah kegiatan keagamaan, atau dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

Akibat tingginya permintaan, sejumlah pedagang mengaku penjualan timba plastik dan perlengkapan rumah tangga lainnya meningkat dibanding hari-hari biasa.

Seorang warga Pangkajene, Ny. Sumi, mengatakan tradisi berbagi pada 10 Muharram sudah menjadi kebiasaan yang dijaga keluarganya sejak lama. Menurutnya, meskipun bentuk sedekah yang diberikan sederhana, nilai utamanya terletak pada niat untuk membantu sesama.

“Kalau sudah mendekati 10 Muharram, biasanya kami membeli timba atau perlengkapan rumah tangga untuk disumbangkan. Ada juga yang menyumbang ke masjid atau berbagi dengan anak yatim. Yang penting berbagi rezeki dan berharap keberkahan dari Allah SWT,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Menurut Ny. Sumi, suasana Muharram di Sidrap memiliki nuansa tersendiri karena hampir setiap lingkungan masyarakat menggelar kegiatan sosial maupun keagamaan.

“Sejak kecil saya melihat tradisi ini. Orang-orang berlomba berbuat baik. Ada yang memberi sedekah, ada yang membantu tetangga, ada juga yang menyediakan konsumsi untuk kegiatan di masjid. Suasananya selalu terasa hangat,” katanya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa di balik ramainya pasar dan meningkatnya penjualan timba plastik, terdapat nilai sosial dan spiritual yang terus hidup di tengah masyarakat. Bagi warga Sidrap, 10 Muharram bukan sekadar pergantian tanggal dalam kalender Hijriah, melainkan momentum untuk memperkuat kepedulian, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak amal kebajikan.

Dari pasar hingga masjid, dari timba plastik hingga kotak amal, semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama: mencari keberkahan dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. (*)