Sidrap, katasulsel.com — Kemarau tidak pernah mengetuk pintu sebelum datang.
Ia tiba perlahan.
Awalnya hanya langit yang terlalu lama cerah. Lalu saluran air mulai menyusut. Setelah itu tanah kehilangan kelembapan. Dan yang paling merasakan adalah petani.
Minggu sore, 9 Agustus 2026, pukul 16.15 WITA, kemarau itu sedang dirasakan Syamsuddin di sawahnya di Desa Kanie, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Lahan seluas 30 are miliknya membutuhkan air.
Padi yang telah ditanam berbulan-bulan tidak bisa menunggu hujan turun kapan saja. Tanaman itu membutuhkan pasokan air sekarang juga.
Di saat itulah pemandangan tak biasa muncul di tengah hamparan persawahan.
Sebuah kendaraan Water Canon milik kepolisian masuk ke area pertanian.
Biasanya kendaraan itu identik dengan pengamanan aksi massa atau penanganan situasi darurat keamanan.
Namun sore itu tugasnya berbeda.
Ia datang membawa air.
Personel Brimob dari Kota Parepare bersama Polres Sidrap mengarahkan semburan air ke areal persawahan yang mulai terdampak kekeringan. Dari kendaraan itu, air mengalir menuju petakan sawah yang selama beberapa hari terakhir membutuhkan tambahan pasokan.
Di tengah kemarau, pemandangan tersebut menjadi seperti “hujan buatan” bagi petani.
Syamsuddin tidak menyembunyikan rasa syukurnya.
Ia mengaku bantuan itu sangat berarti bagi petani yang sedang berjuang mempertahankan tanaman agar tetap tumbuh hingga masa panen.
“Alhamdulillah. Terima kasih banyak kepada Bapak Kapolres, Brimob dan seluruh anggota yang sudah membantu kami. Saat kondisi seperti ini, air sangat kami butuhkan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami sebagai petani,” ujarnya.

Ia mengatakan setiap tambahan pasokan air dapat membantu menyelamatkan tanaman padi yang sedang membutuhkan pengairan.
“Semoga menjadi amal ibadah. Kami bersyukur karena masih ada perhatian kepada petani kecil seperti kami,” tambahnya.
Di tengah teriknya musim kemarau, bantuan itu memang bukan sekadar air.
Bagi petani, itu adalah harapan.
Harapan agar tanaman tetap hijau.
Harapan agar bulir padi tetap terisi.
Dan harapan agar musim panen nanti tidak berubah menjadi kerugian.
Kapolres Sidrap AKBP Indra Waspada Yuda mengatakan pihaknya berupaya hadir membantu masyarakat yang sedang menghadapi dampak kemarau.
Menurutnya, sektor pertanian merupakan tulang punggung kehidupan masyarakat Sidrap sehingga persoalan air harus menjadi perhatian bersama.
“Polri harus hadir di tengah masyarakat. Ketika petani menghadapi kesulitan air, kami berupaya membantu sesuai kemampuan yang kami miliki,” katanya.
Menariknya, pada waktu yang hampir bersamaan, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif juga sedang berada di wilayah timur Sidrap.
Ia meninjau langsung kondisi pertanian dan distribusi air di kawasan Desa Bulucenrana, Kecamatan Pitu Riawa, hingga Desa Bola Bulu, Kecamatan Pitu Riase.
Meski berada di lokasi berbeda, Syaharuddin mengaku terus memantau berbagai upaya yang dilakukan untuk membantu petani menghadapi musim kemarau, termasuk aksi yang dilakukan Polres Sidrap dan Brimob di Desa Kanie.
Menurutnya, apa yang dilakukan jajaran kepolisian merupakan bentuk kepedulian yang patut diapresiasi.
“Terima kasih, terima kasih. Saya memantau langsung laporan teman-teman di lapangan. Ini bentuk kepedulian yang luar biasa dari Polri, khususnya Brimob dan Polres Sidrap kepada petani kita,” ujar Syaharuddin.
Bupati menilai persoalan kemarau tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja.
Diperlukan kolaborasi semua elemen untuk memastikan sektor pertanian Sidrap tetap bertahan dan produksi pangan tidak terganggu.
“Petani kita sedang berjuang menjaga tanamannya. Karena itu saya berterima kasih kepada Kapolres Sidrap dan jajaran Brimob yang ikut turun membantu masyarakat. Ini contoh gotong royong yang harus terus kita jaga,” katanya.
Sore itu, Sidrap memperlihatkan satu pemandangan yang mungkin jarang ditemukan di tempat lain.
Di timur kabupaten, seorang bupati berjalan menyusuri pematang sawah memeriksa aliran air.
Di bagian lain wilayah Sidrap, polisi dan Brimob mengoperasikan Water Canon untuk mengairi lahan pertanian warga.
Tujuannya sama.
Menjaga sawah tetap hidup.
Karena di daerah yang menggantungkan denyut ekonominya pada pertanian, setiap tetes air memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Dan ketika kemarau datang, kepedulian sering kali menjadi hujan pertama yang paling ditunggu petani. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
