
Foto Ilustrasi
Sultra, katasulsel.com — Aspal mengelupas. Tanah tergerus. Lubang menganga di mana-mana.
Itulah wajah jalan penghubung antara Kabupaten Buton Utara (Butur) dan Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Jalan negara ini, berubah jadi medan tempur lumpur dan bebatuan. Terparah: Desa Raimuna, Kecamatan Maligano.
Erosi terjadi masif. Longsor memakan bahu jalan. Tanahnya labil. Daya dukung jalan menurun drastis.
Vegetasi liar tumbuh tak terkendali. Material longsoran dan batang pohon menumpuk di sisi kanan dan kiri jalan. Akses makin sempit.
Seorang pengendara, Lina, harus berjibaku saat pulang ke Kendari. Perjalanannya melintasi Butur–Muna–Konawe Selatan–Kota Kendari. Tapi segmen paling menyiksa ada di Raimuna.
“Capek sekali. Jalan rusak potong-potong tapi panjang. Ada yang longsor di kilo lima dan kilo sebelas,” ucapnya, Sabtu, 5 April 2025.
Saat hujan turun, permukaan jalan jadi licin ekstrem. Koefisien gesek rendah. Risiko slip meningkat.
“Kalau dapat turunan atau tanjakan terus rusak, nyaris tak bisa dilewati,” katanya.
Di titik-titik tertentu, permukaan jalan membentuk kubangan. Kedalamannya bervariasi. Ada yang setara lutut orang dewasa.
“Kalau lengah, bisa jatuh. Apalagi naik motor. Bahaya sekali,” kata Lina.
Fenomena ini masuk kategori degradasi infrastruktur akut. Jika tak segera ditangani, kerusakan akan meluas.
Jalan penghubung ini adalah urat nadi logistik antar kabupaten. Warga khawatir, jika dibiarkan, desa mereka terisolasi.
Lina berharap ada intervensi cepat dari pemerintah. Bukan sekadar tambal sulam. Tapi perbaikan struktural. “Kami butuh jalan yang layak, bukan kubangan raksasa,” tegasnya.
Raimuna tidak butuh janji. Butuh solusi. (*)
Tinggalkan Balasan