624 hari Syaharuddin Alrif memimpin Sidrap. Sedikit lagi dua tahun. Apa saja yang sudah berubah?

Oleh: Edy Basri

Orang Sidrap itu punya kebiasaan menarik.

Kalau bicara sawah, bisa panjang. Kalau bicara ayam petelur, lebih panjang lagi. Kalau sudah bicara harga gabah, jangan buru-buru pamit. Bisa sampai lupa waktu.

Memang begitulah Sidrap. Pertanian bukan sekadar sektor ekonomi. Ia sudah seperti urat nadi. Dari sawah, uang berputar. Dari kandang, telur mengalir. Dari pasar, ekonomi bergerak.

Maka, kalau ingin membaca keberhasilan seorang Bupati Sidrap, jangan hanya melihat gedung kantor.

Jangan pula hanya menghitung berapa kilometer jalan yang diaspal. Lihatlah sawahnya. Lihatlah peternaknya. Lihatlah dapur masyarakatnya.

Kini, sudah 624 hari Syaharuddin Alrif memimpin Kabupaten Sidenreng Rappang.

Dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 bersama Wakil Bupati Nurkanaah. Hari ini, 6 November 2026. Berarti sudah 1 tahun 8 bulan 17 hari.

Belum dua tahun sih, tapi hampir.

Tetapi, kalau melihat sejumlah angka yang muncul, rasanya perjalanan itu tidak bisa disebut tanpa cerita.

Ada pertumbuhan ekonomi 7,71 persen. Ada angka kemiskinan yang dilaporkan turun menjadi 4,91 persen. Ada prevalensi stunting yang disebut berada di angka 5,83 persen.

Angka-angka itu bukan angka kecil.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi 7,71 persen membuat Sidrap menjadi salah satu daerah yang paling menonjol di Sulawesi Selatan.

Tentu, angka statistik kadang seperti orang sedang bercermin. Yang terlihat bagus bagian depannya. Bagian belakangnya tetap perlu diperiksa.

Tetapi setidaknya, ada sesuatu yang bisa dibicarakan.

Yang paling menarik dari Syaharuddin justru bukan soal penghargaan.

Melainkan cara dia melihat sawah.

Orang lain mungkin melihat sawah sebagai hamparan tanah yang menunggu hujan. Syaharuddin melihatnya sebagai persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya.

Sidrap punya sawah. Punya petani. Punya kemampuan produksi. Tetapi ada satu musuh lama: kemarau.

Kalau hujan tidak datang, petani bisa gigit jari. Mesin pompa berbahan bakar solar memang bisa menjadi penyelamat. Tetapi solar juga harus dibeli. Biayanya tidak sedikit.

Lalu muncullah gagasan Listrik Masuk Sawah.

Namanya sederhana. Tidak perlu diterjemahkan ke bahasa Inggris. Tidak perlu dibuat akronim yang sulit dihafal.

Listrik masuk sawah.

Intinya, listrik dipakai untuk menggerakkan pompa air. Air diambil dari sumber yang tersedia, kemudian dialirkan ke persawahan.

Petani tidak harus terus-menerus bergantung pada mesin diesel.

Di beberapa lokasi, program ini mulai menunjukkan hasil. Pemerintah daerah melaporkan produktivitas panen mencapai sekitar 8 hingga 10 ton lebih per hektare pada lahan percontohan.

Ada pula target pemasangan sambungan listrik pertanian hingga 1.500 kVA.

Kalau program ini berjalan luas dan berkelanjutan, manfaatnya bisa panjang.

Sebab, petani itu sebenarnya tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin satu hal: jangan sampai sawahnya kekurangan air ketika tanaman sedang membutuhkan.

Beras bisa dibeli di pasar. Tetapi air untuk sawah tidak bisa dipesan lewat aplikasi.

Syaharuddin juga punya modal lain.

Sidrap bukan daerah yang baru belajar menjadi lumbung pangan. Daerah ini sudah lama dikenal dengan produksi beras dan peternakan ayam petelurnya.

Karena itu, tugas seorang bupati bukan menciptakan identitas baru. Tetapi memperkuat apa yang sudah menjadi kekuatan daerah.

Di sinilah pertumbuhan ekonomi 7,71 persen menjadi menarik.

Produksi pertanian, peternakan, perdagangan, dan aktivitas ekonomi masyarakat harus bergerak bersama.

Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh dilupakan: apakah pertumbuhan itu sudah benar-benar terasa sampai ke petani kecil?

Sebab, ekonomi yang tumbuh di atas kertas belum tentu membuat semua orang ikut tumbuh.

Petani ingin harga gabah yang baik. Peternak ingin harga telur yang menguntungkan. Pedagang ingin pembeli ramai. Anak muda ingin pekerjaan.

Itulah ukuran yang sesungguhnya.

Awal November ini, Syaharuddin kembali mendapat panggung.

Pemkab Sidrap meraih Anugerah Cita Negeri 2026 kategori Cita Daerah Sejahtera dan Sehat dari Kemendagri bersama Kompas TV.

Bupati juga memperoleh Top Regional Leader Award 2026 dari Disway dalam kategori penggerak ketahanan pangan.

Penghargaan memang menyenangkan. Apalagi kalau dibawa pulang ke daerah.

Tetapi penghargaan itu seperti foto wisuda. Ada kebanggaan, ada kebahagiaan. Namun setelah foto selesai, kehidupan tetap harus berjalan.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi sesudahnya.

Apakah program ketahanan pangan terus berjalan? Apakah angka kemiskinan terus turun? Apakah pelayanan kesehatan semakin baik?

Itu yang harus dijaga.

Sebab, penghargaan bisa dipajang di lemari kaca. Tetapi kesejahteraan harus hidup di rumah-rumah warga.

Ada pula pekerjaan lain yang tidak kalah penting: pendidikan.

Pembangunan daerah tidak cukup hanya menghasilkan gabah dan telur.

Sidrap juga harus menghasilkan manusia-manusia berkualitas.

Anak-anaknya harus mampu bersaing. Sekolah harus berkembang. Guru harus diperhatikan. Teknologi harus mulai diperkenalkan sejak dini.

Karena itu, inovasi Digital Robotics for Creative Students yang diperkenalkan dalam seleksi IGA 2026 patut dicermati.

Anak Sidrap tidak boleh hanya dikenal pandai mengolah sawah. Mereka juga harus bisa mengolah teknologi.

Bukan berarti semua anak harus menjadi programmer. Tetapi setidaknya mereka tidak boleh menjadi penonton ketika dunia bergerak semakin digital.

Begitu pula sektor keagamaan. Karakter dan pendidikan moral tetap harus menjadi bagian dari pembangunan manusia.

Pembangunan yang baik bukan hanya menghasilkan masyarakat yang makmur. Tetapi juga masyarakat yang memiliki pengetahuan, karakter, dan kepedulian.

Sekarang, mari kembali menghitung.

624 hari.

Masih ada perjalanan panjang sampai akhir masa jabatan 2025–2030.

Dalam politik, dua tahun pertama biasanya menjadi masa memperlihatkan arah. Tahun-tahun berikutnya menjadi masa pembuktian.

Syaharuddin sudah memiliki sejumlah modal: pertumbuhan ekonomi, inovasi pertanian, penghargaan, dan perhatian terhadap sektor sosial.

Tetapi jangan sampai terlalu sibuk mengejar penghargaan sampai lupa mendengar keluhan warga.

Jalan rusak tetap harus didengar. Petani yang kesulitan air harus dibantu. Keluarga miskin harus diperhatikan. Anak-anak yang membutuhkan pendidikan layak harus dipastikan mendapatkannya.

Bupati tidak bisa hanya bekerja di ruang rapat. Sesekali harus turun melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Sebab, laporan bawahan biasanya rapi. Kondisi lapangan kadang tidak serapi laporan.

Itulah bedanya membaca angka dan membaca kenyataan.

Ada satu hal yang menarik dari Sidrap.

Daerah ini tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah bagaimana potensi itu terus dijaga, diperkuat, dan dibagi manfaatnya secara lebih merata.

Syaharuddin Alrif sudah melewati 624 hari.

Bukan waktu yang sebentar untuk memulai sesuatu. Tetapi juga belum cukup untuk mengklaim semua persoalan selesai.

Kalau listrik benar-benar bisa membuat sawah tetap berair, itu prestasi.

Kalau petani semakin sejahtera, itu lebih prestasi lagi.

Kalau anak-anak Sidrap kelak tumbuh lebih pintar, keluarga miskin semakin berkurang, dan pelayanan publik semakin mudah, itulah warisan kepemimpinan.

Sebab, seorang bupati boleh dikenang karena banyaknya penghargaan.

Tetapi rakyat biasanya punya cara sendiri untuk mengingat pemimpinnya.

Mereka tidak selalu ingat nama penghargaan. Tidak selalu hafal angka pertumbuhan ekonomi.

Mereka lebih mudah mengingat satu hal: ketika membutuhkan pemerintah, apakah pemerintah hadir?

624 hari sudah berlalu. Sawah masih harus ditanami. Ayam masih harus bertelur. Jalan masih harus diperbaiki. Dan Sidrap masih harus terus dibangun.

Bupati boleh berganti suatu hari nanti.

Tetapi hasil kerja yang baik seharusnya tetap tinggal.

Itulah ujian sesungguhnya dari sebuah kepemimpinan. (*)