Parepare, katasulsel.com – Dalam dunia kepolisian, ada istilah yang jarang terdengar di ruang publik, tetapi sangat menentukan arah perang terhadap kejahatan terorganisir: command presence. Di sinilah sosok pemimpin diuji, bukan hanya dalam instruksi, tetapi dalam keberanian membaca pola, mengorkestrasi unit, dan menutup celah jaringan yang bergerak lintas negara.
Di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), ujian itu tengah berlangsung. Sejak resmi menjabat Kapolres Parepare pada 9 Juli 2025, AKBP Indra Waspada Yuda berada di garis depan operasi besar yang kini berkembang menjadi salah satu pengungkapan narkotika paling signifikan di Sulawesi Selatan.
Kasus terbaru bukan perkara kecil. Sebanyak 41 kilogram sabu-sabu dan 157 cartridge liquid vape mengandung etomidate berhasil diungkap jajaran Polres Parepare. Dari pengembangan kasus itu, lima tersangka telah diamankan dan diduga kuat merupakan bagian dari jaringan penyelundupan narkotika lintas negara.
Yang membuat kasus ini tidak berdiri sendiri adalah jejaknya. Penyidik menemukan pola berulang: jaringan ini bukan pemain baru.
Dari hasil pemeriksaan, para tersangka mengakui pernah berhasil meloloskan pengiriman sabu pada akhir 2025 melalui jalur yang sama. Artinya, ada sistem yang sudah bekerja sebelumnya, dan baru kali ini terputus di tengah jalan.
Modusnya rapi. Barang haram dari Malaysia masuk melalui jalur perbatasan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, lalu bergerak melalui laut menuju Pelabuhan Nusantara Parepare. Dari titik itu, distribusi dirancang meluas ke beberapa wilayah di Sulawesi Selatan, dengan target awal Kabupaten Pinrang.
Di titik inilah peran early detection aparat menjadi kunci. Unit Satresnarkoba Polres Parepare membaca anomali, mencurigai pergerakan barang, dan melakukan pengawasan intensif hingga akhirnya jaringan tersebut terhenti sebelum mencapai distribusi akhir.
“Ini bukan pengiriman pertama mereka. Dari hasil pemeriksaan sementara, para tersangka mengaku pernah berhasil meloloskan pengiriman narkotika melalui jalur yang sama pada akhir tahun lalu,” ungkap Kapolres Parepare dalam keterangan yang dikembangkan penyidik, Rabu (10/06/2026).
Dalam logika jaringan narkotika internasional, keberhasilan sekali bukan kebetulan. Biasanya ia menjadi pintu masuk untuk ekspansi. Dan di sinilah Polres Parepare membaca ancaman lebih besar: bukan sekadar kurir, tetapi sistem distribusi lintas wilayah.
Yang lebih mencolok, para tersangka mengaku dijanjikan imbalan hingga Rp900 juta untuk satu kali pengiriman. Angka ini bukan sekadar upah, tetapi indikator bagaimana jaringan ini mengoperasikan insentif ekonomi sebagai “bahan bakar” kejahatan.
Empat dari lima tersangka mengaku terdorong faktor ekonomi. Namun dalam perspektif penegakan hukum, Polres Parepare menegaskan bahwa motif ekonomi tidak pernah menjadi pembenar atas keterlibatan dalam kejahatan narkotika.
Di balik kasus ini, pola lama kembali muncul: jalur Malaysia–Sebatik–Nunukan–Parepare. Jalur yang sejak lama dikenal sebagai salah satu corridor vulnerability dalam peredaran narkotika di kawasan timur Indonesia.
Namun ada yang berbeda dalam penanganan kali ini. Di bawah kepemimpinan AKBP Indra Waspada Yuda, pendekatan tidak berhenti pada penangkapan, tetapi bergerak ke network dismantling—membongkar struktur, bukan hanya pelaku lapangan.
Hingga kini, penyidik masih menelusuri kemungkinan adanya aktor lain sebagai pengendali dan penerima akhir di wilayah Sulawesi Selatan. Pola distribusi yang lebih luas juga masih dalam pengembangan.
Jika ditarik ke garis besar, capaian Polres Parepare dalam periode kepemimpinan ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam pengungkapan narkotika berskala besar. Sebelumnya, pengungkapan sekitar 60 kilogram sabu juga telah dilakukan. Dengan tambahan kasus terbaru, total barang bukti yang berhasil diungkap mendekati 101 kilogram.
Namun angka bukan satu-satunya ukuran. Dalam kepolisian, ada istilah lain yang lebih halus tetapi lebih penting: disruption of supply chain. Dan di Parepare, rantai itu kini sedang diganggu secara serius.
Di level lapangan, kerja ini bukan kerja satu orang. Ada sistem, ada unit, ada intelijen, ada penyidikan, dan ada team synchronization yang berjalan senyap namun terukur.
Tapi dalam setiap operasi besar, publik biasanya hanya melihat satu nama di garis depan. Di kasus ini, nama itu adalah Kapolres yang kini menjadikan Parepare bukan sekadar wilayah hukum, tetapi titik tekanan bagi jaringan narkotika lintas negara.
Dan perang itu belum selesai. Tentu. Itu pesan jelas dari Perwira berpangkat dua melati yang pernah menjabat Kasat Reskrim dan Kasat Narkoba Polres Sidrap itu. (edybasri)
