Enrekang, katasulsel.com — Di antara sisa arang dan dinding yang telah rata dengan tanah, masih ada suara yang tak benar-benar hilang: suara harapan. Harapan itu kembali dihidupkan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS Kabupaten Enrekang) yang menyalurkan bantuan kebakaran senilai Rp89 juta kepada 13 kepala keluarga yang menjadi korban musibah di Kabupaten Enrekang.

Bantuan itu bukan sekadar angka. Ia hadir seperti pelukan di tengah malam yang dingin bagi mereka yang baru saja kehilangan rumah, usaha, dan sebagian hidupnya dalam sekejap api yang melalap tanpa ampun.

Penyaluran dilakukan di tiga titik berbeda: Pasar Agro Sumillan Kecamatan Alla, Kecamatan Baroko, serta Dusun Buntu Ampang, Desa Baroko. Di setiap titik, wajah-wajah lelah para korban menyimpan cerita yang sama—tentang api yang datang tiba-tiba, tentang jerit yang tak sempat menyelamatkan banyak barang berharga.

Di Pasar Agro Sumillan, sembilan kepala keluarga menerima bantuan dengan total Rp49 juta. Nama-nama seperti Muhammad Rusli, Hasmi, Jabir, hingga Badaria kini kembali disebut bukan dalam daftar kehilangan, tetapi dalam daftar yang mencoba bangkit.

“Masing-masing korban mendapatkan bantuan yang bervariasi, antara Rp5 juta hingga Rp7 juta. Kebakaran sudah terjadi sejak 13 Mei 2026, tapi baru saat ini bisa kami salurkan,” ujar Pimpinan BAZNAS Enrekang, Ilham Kadir, dengan suara yang nyaris tenggelam oleh suasana haru di lokasi.

Di Tongko, Kecamatan Baroko, dua keluarga lain—Pole dan Irsal—yang rumahnya hangus pada 30 Mei 2026, menerima bantuan masing-masing Rp10 juta. Kini, keduanya masih bertahan di tenda sederhana di samping puing rumah mereka, menatap hari depan yang belum pasti.

“Kami juga mendorong gotong royong masyarakat sekitar agar para mustahik tidak menghadapi ini sendirian,” kata Ilham.

Sementara itu, di Dusun Buntu Ampang, dua keluarga lain yang telah lama menanggung luka sejak kebakaran tahun lalu juga akhirnya mendapat perhatian yang sama, masing-masing menerima Rp10 juta.

Di balik penyaluran bantuan itu, tersimpan kisah lebih dalam tentang bagaimana zakat, infak, dan sedekah menjadi jembatan antara yang mampu dan yang sedang jatuh dalam ujian hidup. Dana tersebut disebut berasal dari pengumpulan ZIS masyarakat, termasuk sisa dana tahun sebelumnya.

“Hari ini total Rp89 juta kami salurkan untuk 13 KK. Semoga ini menjadi penguat untuk mereka memulai kembali,” tutur Ilham.

Di tengah perjalanan lembaga ini, ada juga catatan masa lalu yang tak dihindari. Namun bagi para korban di lapangan, semua itu tidak lagi penting. Yang lebih mereka rasakan hari ini adalah kehadiran, kepedulian, dan tangan yang kembali merangkul mereka dari keterpurukan.

Dan di antara puing-puing yang masih hangat oleh luka, ada satu hal yang perlahan tumbuh kembali: keyakinan bahwa hidup belum benar-benar selesai. (fungfi)