Jakarta, Katasulsel.com — Program Jelajah Sekolah Indonesia kembali berlanjut pada episode kedua, kali ini mengupas lebih dekat cerita di balik penerapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang kini menjadi pintu masuk pendidikan di berbagai daerah.
Dari Jakarta, Tangerang, hingga Bogor, sistem ini memperlihatkan satu hal yang sama: setiap anak punya jalan masuk sekolah yang berbeda, sesuai kondisi dan prestasinya.
Di Jakarta, jalur domisili menjadi solusi bagi siswa yang bersekolah dekat rumah. Selain memudahkan akses, jalur ini juga membantu orang tua dalam mengawasi langsung aktivitas anak di sekolah.
Sementara itu, jalur mutasi memberi kesempatan bagi anak guru atau pegawai yang berpindah tugas untuk tetap melanjutkan pendidikan di sekolah tempat orang tuanya bekerja.
Cerita lain datang dari Syahrul, siswa yang mendapat kesempatan masuk sekolah melalui jalur afirmasi. Jalur ini menjadi ruang bagi siswa dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa terhambat kondisi ekonomi.
Di Bogor, kisah menarik datang dari Sulthon dan Putra. Keduanya dikenal aktif sebagai Ketua Pramuka dan Ketua OSIS di sekolah sebelumnya. Pengalaman organisasi itu menjadi nilai tambah sehingga mereka diterima melalui jalur prestasi kepemimpinan.
Di Tangerang, seorang guru bernama Santika melihat langsung bagaimana sistem ini membuka ruang yang lebih luas bagi siswa untuk berkembang sesuai kemampuan masing-masing. Ia menilai pendidikan inklusif semakin nyata dengan hadirnya berbagai jalur masuk tersebut.
Di sisi lain, kolaborasi antara pemerintah daerah dan sekolah swasta juga mulai memberi dampak positif. Skema ini membantu siswa yang sebelumnya khawatir tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya.
SPMB kini tidak lagi dipahami sekadar sebagai proses administrasi penerimaan siswa baru. Lebih dari itu, sistem ini menjadi upaya untuk menghadirkan akses pendidikan yang lebih adil, terbuka, dan memberi kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.(din)
