Makassar, Katasulsel.com – Jika biasanya geng motor identik dengan suara knalpot yang menggelegar di malam hari dan aksi liar yang bikin warga ciut, kali ini Makassar punya cara berbeda untuk menekan fenomena itu. Pemerintah Kota mengandalkan seni sebagai senjata strategis lewat program unik bernama Trauma Kota.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa kejahatan jalanan bukan sekadar masalah hukum, tapi persoalan sosial dan psikologis. “Kejahatan jalanan yang melibatkan geng motor menurunkan rasa aman warga di ruang publik. Ini bukan cuma soal aturan, tapi trauma kolektif yang harus direspons,” kata Soekarno-Hatta, penggagas Trauma Kota.
Pendekatan yang dipilih unik: performance art, pameran foto, diskusi publik, hingga lokakarya kreatif. Semua digelar di lima kecamatan yang paling terdampak: Ujung Pandang, Mariso, Mamajang, Rappocini, dan Manggala.
Sejak Februari 2026, lokakarya performansi telah digelar tiga kali di Studio Kala Teater. Hasilnya bukan sekadar karya seni, tapi alat komunikasi untuk membuka dialog antara warga, seniman, dan pemerintah. Tujuannya jelas: memulihkan rasa aman dan menciptakan ruang kota yang inklusif.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menekankan, program ini tidak menstigmatisasi seluruh komunitas geng motor. Ada kelompok yang melakukan kegiatan positif dan membangun solidaritas. “Pendekatan kami komprehensif. Bukan hanya menindak, tapi juga memberikan ruang kreatif yang edukatif,” ujarnya.
Setiap pameran foto akan menampilkan dokumentasi dan refleksi visual terkait fenomena geng motor, diikuti diskusi publik menghadirkan narasumber lintas sektor dan psikolog, lalu pertunjukan seni performansi yang langsung menyasar ruang publik.
Jadwal perdana dimulai 21 April 2026 di Kantor Kecamatan Ujung Pandang. Pameran foto akan berlangsung satu hari penuh, dilanjutkan diskusi publik dan pertunjukan seni. Setelah itu, kegiatan berpindah ke Mariso, Mamajang, Rappocini, hingga Manggala, masing-masing menampilkan karya berbeda sesuai karakter wilayahnya.
Menurut Sahuriyanto Meronda, Kepala Dinas Kominfo Kota Makassar, kolaborasi menjadi kunci utama. “Skema partisipatif ini membuat warga, seniman, dan OPD bekerja bersama. Seni menjadi medium strategis untuk menyikapi persoalan sosial perkotaan, sekaligus memperkuat dialog kolektif,” jelasnya.
Dengan Trauma Kota, Makassar menunjukkan bahwa menghadapi geng motor bisa lebih kreatif dan edukatif, tidak sekadar menindak. Ruang publik bukan lagi sekadar jalan atau trotoar, tapi arena interaksi aman, inklusif, dan berbudaya.
Bagi warga Makassar, langkah ini menjadi angin segar: mendengar musik performansi di tengah plaza lebih menenangkan daripada suara knalpot menderu, sementara generasi muda dilibatkan aktif, sehingga muncul kesadaran kolektif untuk menjaga kota tetap aman.
Program ini pun menjadi contoh bahwa strategi kultural berbasis seni bisa menjadi senjata efektif, bukan hanya untuk menekan kriminalitas, tapi juga membangun kota yang ramah, aman, dan kreatif. Makassar siap menghadapi tantangan, dengan Trauma Kota sebagai simbol inovasi sosial yang nyata dan terasa di lapangan.(*)

Tinggalkan Balasan