Makassar, Katasulsel.com — Di tengah kompleksitas isu ekonomi global yang dibahas dalam forum Economic Outlook in War: Mitigasi Risiko, Optimalisasi Peluang, satu sosok justru mencuri perhatian. Bukan sebagai pembicara utama, melainkan sebagai pengendali arah diskusi—Abdul Jabbar.
Ketua Karang Taruna Kabupaten Sidrap itu tampil layaknya “dirigen diskusi”, mengatur tempo, menjaga harmoni, sekaligus memastikan setiap gagasan dari para narasumber tidak hanya terdengar, tetapi juga terhubung dalam satu benang merah yang utuh.
Forum yang digelar oleh HIPMI Sulawesi Selatan di Makassar ini menghadirkan tokoh-tokoh penting lintas sektor—mulai dari legislatif, akademisi, militer, hingga pelaku usaha. Nama-nama seperti Ashabul Kahfi dan Andi Amar Ma’ruf Sulaiman membawa perspektif besar. Namun, tanpa orkestrasi yang tepat, diskusi berisiko berjalan sporadis.
Di sinilah peran Abdul Jabbar menjadi krusial.
Dengan pendekatan yang terukur, ia tidak sekadar memandu jalannya forum, tetapi juga memainkan fungsi narrative steering—mengunci arah pembahasan agar tetap fokus pada isu utama: bagaimana menghadapi tekanan ekonomi akibat konflik global, sekaligus membuka ruang peluang.
Setiap intervensi yang ia lakukan terasa strategis. Ia mampu “menarik” poin penting dari tiap narasumber, lalu mengaitkannya dengan sudut pandang lain. Hasilnya, forum tidak berjalan sebagai kumpulan opini, melainkan menjadi connected dialogue yang saling menguatkan.
Dalam dinamika diskusi tingkat tinggi, posisi moderator sering kali dianggap pelengkap. Namun di forum ini, Abdul Jabbar justru menjadi central pivot—titik tumpu yang menjaga keseimbangan antara gagasan, kepentingan, dan solusi.
“Kita tidak bisa menghindari dampak global, tapi kita bisa mengelolanya dengan lebih cerdas,” menjadi salah satu penegasan yang ia dorong sebagai arah diskusi. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan adaptive strategy, yakni kemampuan membaca risiko sekaligus mengubahnya menjadi peluang.
Lebih dari itu, penampilan Abdul Jabbar membawa pesan simbolik: bahwa figur muda dari daerah mampu tampil sebagai pengarah wacana, bukan sekadar peserta. Ia bukan hanya hadir di forum nasional, tetapi ikut menentukan ritme dan kualitas percakapan.
Forum ini pun meninggalkan kesan kuat—bahwa dalam diskursus besar, tidak selalu yang paling banyak bicara yang paling berpengaruh. Kadang, justru yang mengatur alur bicara itulah yang memegang kendali.
Dan di forum ini, “tongkat dirigen” itu berada di tangan seorang pemuda dari Sidrap.(*)
