Tipue Sultan EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 413 Lihat semua

Jakarta, Katasulsel.com — Saat sebagian dunia yakin perang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel bakal cepat tuntas, realitas justru menampar ekspektasi itu. Iran tak menunjukkan tanda-tanda menyerah, malah serangan balasannya makin beringas, membuat strategi militer AS-Israel kian ribet dan memicu gelombang gejolak yang nyaris menyeret seluruh Timur Tengah.

Serangan awal koalisi yang menargetkan markas militer utama Iran, termasuk pembunuhan pemimpin tertinggi dan beberapa komandan penting, sempat dianggap sebagai “checkmate” dalam strategi militer AS. Namun, kenyataan berkata lain. Rudal dan drone Iran yang dipantau ketat berhasil menerobos pertahanan musuh, menyebabkan kebakaran dan kerusakan di sejumlah pangkalan strategis. Bahkan beberapa sistem pertahanan tercanggih AS terlihat kewalahan menghadapi taktik canggih Teheran.

Di balik serangan balik itu, solidaritas rakyat Iran terlihat makin kuat. Alih-alih panik, warga di kota-kota besar turun mendukung perlawanan, menyalakan semangat nasionalisme yang disebut pengamat sebagai fight-back mentality. Banyak yang menilai, kematian tokoh penting justru menjadi “bahan bakar semangat” rakyat untuk membalas dendam secara terukur dan strategis.

Miskalkulasi AS dan Israel terlihat jelas. Koalisi terlalu cepat percaya kalau kematian pemimpin Iran akan mematahkan perlawanan rakyat. Nyatanya, sistem pertahanan Iran yang telah dibangun puluhan tahun terbukti lebih adaptif daripada prediksi intelijen. Mereka memiliki arsenal underground, termasuk rudal jarak jauh dan drone berteknologi tinggi yang selama ini tak terekspos publik.

Selain faktor psikologis, kemampuan swasembada alutsista Iran jadi kartu truf yang membuat negara ini tetap bertahan. Meski dihantam embargo dan isolasi internasional selama puluhan tahun, Iran tetap bisa memproduksi rudal, drone, dan berbagai senjata canggih secara mandiri. Teknologi lokal mereka bahkan sudah diekspor, menjadi game changer di medan konflik sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Sementara itu, Selat Hormuz tetap menjadi titik panas dunia. Jalur pelayaran minyak vital ini nyaris kosong, memicu harga minyak melonjak dan menciptakan tekanan ekonomi global. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai merasakan dampaknya, dari harga bahan bakar sampai biaya logistik yang meningkat.

Meski beberapa pihak mencoba jalur diplomasi, realitas di lapangan menunjukkan serangan masih berlanjut, intensitasnya tinggi, dan risiko konflik meluas tetap nyata. Apa yang terjadi di Timur Tengah kini bukan sekadar perang regional, tapi simbol persaingan strategi, teknologi, dan geopolitik global.

Di mata dunia, Iran menegaskan satu hal: bangsa yang mandiri, bersatu, dan resilien, tidak mudah dianggap remeh. Dari Tehran hingga Teluk, dari Washington hingga Jakarta, perang ini menjadi peringatan bahwa underestimated power bisa berubah menjadi game changer yang mengejutkan lawan.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.