Artinya, keberhasilan musim tanam mendatang tidak cukup mengandalkan harapan akan datangnya hujan. Kesiapan infrastruktur dan koordinasi antarpihak tetap menjadi bagian penting dari strategi pertanian.

Dalam rapat tersebut, Syaharuddin mengapresiasi dukungan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) serta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) dalam memenuhi kebutuhan air pertanian.

Upaya itu antara lain dilakukan melalui program Listrik Masuk Sawah dan pemanfaatan sumur bor.

Kedua langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membantu pengairan, terutama ketika pasokan air dari sumber utama belum mencukupi kebutuhan petani.

“Secara keseluruhan, Sidrap naik hasil pertaniannya karena kerja sama kita semuanya,” ujar Syaharuddin.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peningkatan produksi tidak hanya bertumpu pada petani. Pemerintah daerah, petugas pengairan, penyuluh, dan pemangku kepentingan lainnya juga memiliki peran dalam memastikan proses produksi berjalan lebih baik.

Namun, efektivitas dukungan tersebut tetap bergantung pada kondisi lapangan, kecukupan sumber air, serta ketepatan distribusi ke wilayah yang membutuhkan.

Perwakilan BBWS Pompengan Jeneberang, Firdaus, mengingatkan bahwa dampak kekeringan masih perlu diantisipasi.

Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikannya dalam rapat, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada awal Desember atau paling cepat akhir November 2026.

Perkiraan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun rencana tanam. Meski demikian, waktu datangnya hujan tidak otomatis menjamin seluruh lahan memperoleh air dalam jumlah yang cukup.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru