Jaringan irigasi tetap perlu dipantau, sementara distribusi air harus disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing wilayah.

Firdaus menyatakan BBWS Pompengan Jeneberang siap membantu pemantauan ketersediaan air dan kelancaran distribusi melalui jaringan irigasi.

Dukungan itu diharapkan membantu pelaksanaan rencana tata tanam secara serentak di wilayah Sidrap.

Rapat koordinasi telah membuka jalan untuk memetakan kebutuhan. Tahap berikutnya adalah memastikan hasil pembahasan benar-benar diterjemahkan menjadi pekerjaan di lapangan.

Titik irigasi yang bermasalah perlu diketahui secara jelas. Kebutuhan perbaikan harus diprioritaskan, sementara sumber air alternatif dan pembagian distribusinya perlu dipastikan sesuai kondisi masing-masing hamparan.

Sebab, bagi petani, keberhasilan persiapan musim tanam tidak diukur dari banyaknya rapat yang digelar. Ukurannya lebih sederhana: apakah air tersedia ketika dibutuhkan, apakah tanaman tumbuh dengan baik, dan apakah hasil panen meningkat.

Sidrap kini membidik produktivitas 10 ton per hektare. Target itu menjadi tantangan sekaligus dorongan untuk memperbaiki pengelolaan pertanian secara menyeluruh.

Setelah kemarau menguji ketahanan petani, musim tanam berikutnya akan menguji kesiapan pengairan dan kemampuan semua pihak bekerja bersama.

Air harus tersedia. Irigasi harus berfungsi. Dan target produksi harus diperjuangkan melalui kerja nyata di sawah. (edybasri)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru