Makassar, Katasulsel.com – Dari pinggiran desa di Kajang, Bulukumba, langkah seorang akademisi muda kembali menembus panggung nasional. Dr. Akram Ista bukan sekadar hadir, tetapi dipanggil langsung oleh negara untuk masuk dalam ruang strategis penguatan nilai kebangsaan.
Undangan itu datang dari Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, lembaga yang selama ini dikenal sebagai “kawah candradimuka” para pemikir dan pemimpin bangsa. Melalui Surat Perintah Nomor: SPRIN/734/IV/2026, Akram ditetapkan sebagai peserta Pelatihan untuk Pelatih (Training of Trainers/ToT) Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan ke-37.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 4 hingga 11 Mei 2026 di Jakarta—pusat denyut kebijakan nasional. Di sanalah para peserta akan digembleng, bukan hanya soal teori kebangsaan, tetapi juga bagaimana merawat Indonesia di tengah tantangan zaman yang makin kompleks.
Program ini bukan forum biasa. Pesertanya lintas profesi: dosen, guru, widyaiswara, hingga aparat negara. Dari unsur TNI, birokrat, hingga peneliti dari lembaga strategis seperti BRIN dan kementerian. Semua dikumpulkan dalam satu ruang, satu frekuensi: menjaga Indonesia tetap utuh.
Di tengah keragaman itu, nama Akram Ista hadir sebagai representasi daerah. Bukan dari kota besar, bukan pula dari pusat kekuasaan, tetapi dari akar—dari kampung, dari realitas sosial yang nyata. Itu yang membuat kehadirannya terasa berbeda.
Putra pertama pasangan Ismail dan Tanawali ini seolah mengirim pesan diam: bahwa kualitas tidak selalu lahir dari pusat, tapi bisa tumbuh dari pinggiran. Dari ruang-ruang sunyi yang jarang disorot.
Momentum ini bukan hanya pencapaian personal. Ada kebanggaan kolektif yang ikut terangkat—khususnya bagi masyarakat Bulukumba dan Sulawesi Selatan. Sebab di balik satu nama yang dipanggil negara, ada identitas daerah yang ikut berdiri.
Lebih dari itu, keikutsertaan dalam program Lemhannas membuka pintu jejaring nasional. Di sana, gagasan dipertukarkan, perspektif diuji, dan arah masa depan bangsa dirumuskan bersama. Ini bukan sekadar pelatihan, tapi investasi pemikiran.
Akram diharapkan tidak hanya membawa pulang sertifikat, tetapi juga gagasan, pengalaman, dan energi baru. Sesuatu yang bisa ditransformasikan ke ruang akademik dan masyarakat luas.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya hadir di forum nasional—tetapi sejauh mana dampaknya kembali ke tanah asal.
Dan dari Kajang, langkah itu sudah dimulai. (*)
