Sesudah Magrib.

Samsinar berpulang.

Setelah berbulan-bulan berjuang melawan sakit yang dideritanya.

Carcinoma mammae.

Keluarga sudah berusaha.

Pengobatan medis ditempuh.

Rumah sakit didatangi.

Klinik didatangi.

Berbagai ikhtiar dilakukan.

Pengobatan tradisional pun dicoba.

Sebab kalau yang sakit adalah orang yang kita cintai, harapan sekecil apa pun tetap akan dikejar.

Mungkin Samsinar juga masih ingin bertahan.

Bukan semata karena takut pergi.

Tetapi mungkin karena ia masih ingin melihat satu hari yang sangat ia tunggu.

Hari ketika Bota menikah.

Tetapi takdir berkata lain.

Ia pergi sehari sebelum malam pacar putranya.

Siang tadi tanah menutupnya

Hari ini, Selasa, 18 Agustus.

Sebelum malam pacar berlangsung, keluarga terlebih dahulu mengantarkan Samsinar ke tempat peristirahatan terakhir.

Ia dikebumikan siang tadi.

Tanah menutup jasadnya.

Doa-doa dipanjatkan.

Keluarga menangis.

Orang-orang datang menyampaikan belasungkawa.

Lalu hari bergerak menuju sore.

Dan malam datang.

Di rumah orang tua Samsinar di Arateng, keluarga kembali berkumpul.

Tetapi kali ini bukan untuk pemakaman.

Untuk malam pacar Bota.

Bayangkan perasaan keluarga itu.

Siang tadi baru meninggalkan makam.

Malam ini berdiri di bawah tenda pernikahan.

Tadi siang air mata karena kehilangan.

Malam ini harus tersenyum karena pernikahan.

Hidup memang tidak selalu memberi kita waktu untuk memilih suasana hati.

Dan lihat Bota

Ia memakai pakaian pengantin pria.

Barangkali Samsinar pernah membayangkan putranya seperti ini.

Berdiri gagah.

Berpakaian adat.

Bersiap menjadi suami.

Seorang ibu biasanya menyimpan bayangan itu jauh sebelum hari pernikahan datang.

Mungkin Samsinar pernah membayangkan:

“Nanti kalau Bota menikah…”

Kalimat itu mungkin pernah terucap.

Atau mungkin hanya tersimpan di dalam hati.

Sayangnya, kalimat itu berhenti sebelum sampai pada ujungnya.

Samsinar tidak sempat melihat.

Tidak sempat menyentuh pakaian pengantin anaknya.

Tidak sempat membetulkan kerahnya.

Tidak sempat berkata:

“Gagah sekali anak Ibu.”

Lihat Darwis

Di samping Bota ada Darwis.

Ayahnya.

Suami Samsinar.

Mereka berdiri bersama dalam pakaian adat.

Dari foto, mungkin terlihat gagah.

Tetapi kita tidak tahu apa yang ada di balik wajah itu.

Darwis baru saja kehilangan istrinya.

Siang tadi ia mungkin masih berdiri di dekat makam Samsinar.

Malam ini ia berdiri bersama putra-putranya.

Seharusnya ada istrinya di sana.

Seharusnya mereka berdua menikmati malam ini bersama.

Menyaksikan anak mereka bersiap menikah.

Tetapi Darwis harus menerima kenyataan:

istrinya pergi lebih dahulu.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini